Skip to main content

Property & Bank

Investasi Co-living Makin Dilirik, Minat Konversi Aset Melonjak 40%

Investasi Cove, Co-living
Data Cove Minat Konversi Aset ke Co-living Naik 40% di Tengah Tekanan Industri Properti.

Property&Bank.com – Di tengah tekanan yang masih membayangi industri properti nasional, investasi co-living justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Ketika penjualan rumah mengalami perlambatan akibat menurunnya daya beli masyarakat dan meningkatnya biaya kontruksi, minat pemilik aset untuk mengkonversi lahan menjadi hunian co-living terus meningkat.

Cove, operator hunian co-living modern, mencatat lonjakan minat konversi aset menjadi co-living sebesar 40% secara tahunan (year on year/YoY). Peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa model bisnis co-living semakin dipandang sebagai instrumen investasi properti yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Ketidakpastian makroekonomi yang dipengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah serta dinamika geopolitik global telah mendorong kenaikan harga bahan bangunan. Kondisi tersebut ikut menekan sektor properti nasional. Di sisi lain, melemahnya daya beli masyarakat membuat penjualan rumah pada kuartal I 2026 turun hingga 25,67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, kebutuhan terhadap hunian tetap tinggi, khususnya bagi kalangan profesional muda dan masyarakat urban yang membutuhkan tempat tinggal fleksibel di lokasi strategis. Situasi inilah yang membuat investasi co-living tetap memiliki prospek positif.

Menurut Country Director of Investment Cove, Rizky Kusumo, tingginya minat tersebut mendorong perusahaan menghadirkan layanan konsultasi pembangunan co-living bagi pemilik aset yang ingin memasuki bisnis ini.

“Banyak pemilik aset melihat bahwa hunian tetap menjadi kebutuhan primer. Sementara model co-living menawarkan fleksibilitas yang sesuai dengan kondisi daya beli masyarakat saat ini. Karena itu, kami meluncurkan layanan konsultasi bagi mereka yang ingin membangun co-living tetapi belum memiliki pengalaman,” ujar Rizky.

Ia menambahkan, pada semester I 2026, Cove berhasil menambah hampir 1.000 kamar co-living di Indonesia dengan rata-rata occupancy rate mencapai 85%, mencerminkan tingginya permintaan pasar terhadap jenis hunian tersebut.

Pemilik Aset Perorangan Ramai Beralih ke Investasi Co-living

Menariknya, tren investasi co-living saat ini tidak lagi didominasi investor institusi. Sebaliknya, pemilik aset perorangan menjadi kelompok yang paling aktif mencari informasi mengenai konversi properti.

Data Cove menunjukkan sekitar 70% permintaan konsultasi berasal dari pemilik tanah kosong, yang sebagian besar merupakan aset keluarga yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Sementara sisanya berasal dari pemilik ruko yang sudah tidak produktif dan ingin mengubah asetnya menjadi bisnis dengan arus pendapatan yang lebih stabil.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan cara pandang investor terhadap aset properti. Jika sebelumnya banyak pemilik memilih mempertahankan tanah sebagai aset pasif, kini semakin banyak yang ingin mengubahnya menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.

Dari sisi pengembangan, bangunan co-living dapat dibangun di atas lahan mulai sekitar 200 meter persegi. Namun, mayoritas calon investor yang berkonsultasi dengan Cove memiliki lahan seluas 800 hingga 1.000 meter persegi, sehingga memungkinkan pembangunan fasilitas pendukung seperti area parkir maupun ruang komunal.

Tidak sedikit pula pemilik lahan di atas 1.500 meter persegi yang mengembangkan konsep mixed-use, yakni menggabungkan co-living dengan usaha lain seperti kafe, restoran, atau ruang komersial. Strategi tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan sekaligus memperkuat potensi pendapatan dari berbagai sumber.

Selain fleksibilitas dari sisi pengembangan, model bisnis co-living juga semakin beragam. Banyak investor kini mengadopsi konsep hybrid dengan mengombinasikan penyewaan bulanan dan harian. Pendekatan tersebut memungkinkan pemilik properti melayani pasar penyewa jangka panjang sekaligus wisatawan atau pelaku perjalanan bisnis, sehingga tingkat okupansi dapat lebih terjaga sepanjang tahun.

Jakarta masih menjadi pasar paling menarik bagi investasi co-living. Berdasarkan data Cove, ibu kota mencatat volume permintaan konsultasi pembangunan co-living tertinggi, jauh melampaui Surabaya yang berada di posisi kedua.

Tingginya permintaan di Jakarta didorong kebutuhan pekerja Jabodetabek yang ingin memangkas waktu perjalanan menuju kantor. Sementara Surabaya memperoleh permintaan dari kalangan mahasiswa dan pekerja yang datang dari luar kota.

Di Jakarta, kawasan Cipete dan Setiabudi menjadi dua lokasi yang paling diminati untuk pengembangan co-living. Dalam satu tahun terakhir, kedua kawasan tersebut mencatat penambahan sekitar 200 hingga 300 kamar co-living dan tetap mampu mempertahankan tingkat okupansi yang sehat meski pasar properti sedang melambat.

Salah satu contoh proyek hasil layanan konsultasi Cove adalah Cove Dra House di kawasan Menteng. Properti yang dibangun di atas lahan kosong tersebut telah beroperasi sejak 2025 dan hingga kini mencatat tingkat hunian di atas 80%.

Melihat tren tersebut, investasi co-living dinilai akan terus menjadi salah satu segmen yang menarik di industri properti. Di tengah tantangan ekonomi dan perlambatan penjualan rumah, model hunian yang menawarkan fleksibilitas bagi penyewa sekaligus memberikan arus kas yang relatif stabil bagi pemilik aset diperkirakan akan semakin diminati dalam beberapa tahun ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan