
Propertynbank.com – Pasar properti di Surabaya memasuki fase yang cukup menantang pada 2026. Di tengah daya beli masyarakat yang cenderung menahan keputusan pembelian, transaksi jual-beli properti disebut mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, kondisi berbeda terlihat pada segmen sewa. Kebutuhan terhadap hunian, ruang usaha, hingga gudang justru masih menunjukkan aktivitas yang relatif tinggi. Fenomena tersebut menjadi gambaran bahwa masyarakat dan pelaku usaha kini lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya kondusif.
Gambaran tersebut disampaikan sejumlah agen properti GadingPro Surabaya, yakni Lenny Shu, Kevin Lim, dan Henny Puspitasari, yang baru menyelesaikan ujian sertifikasi agen properti di LSP Area.
Menurut Lenny Shu, secara umum transaksi jual-beli properti di Surabaya pada 2026 mengalami penurunan dibandingkan 2025. Sebaliknya, aktivitas sewa-menyewa justru relatif lebih tinggi.
“Secara umum di Surabaya penjualan untuk tahun 2026 ini kalau jual-beli agak menurun dibandingkan 2025. Tetapi kalau untuk sewa-menyewa transaksinya lebih tinggi,” ujarnya di kantor LSP Area, Kawasan Komplek Gudang Peluru, Jakarta.
Konsumen Properti di Surabaya Menunda Pembelian
Menurut para agen, perlambatan tidak hanya terjadi pada pasar secondary, tetapi juga mulai terasa pada properti primary. Salah satu faktor yang terlihat di lapangan adalah keputusan calon konsumen untuk menunda pembelian.
Kondisi tersebut berbeda dengan periode pandemi Covid-19. Saat itu, menurut pengalaman mereka, transaksi properti di Surabaya masih cukup aktif. Bahkan, muncul kelompok pembeli baru yang memiliki kemampuan finansial lebih baik setelah memperoleh keuntungan dari aktivitas usaha selama pandemi.
Properti yang dibeli pada periode tersebut tidak hanya untuk tempat tinggal, tetapi juga investasi dan kebutuhan usaha. Kawasan Surabaya Barat menjadi salah satu area yang banyak diminati, meskipun perkembangan proyek properti kini semakin menyebar ke wilayah lain, termasuk Surabaya Timur. “Sekarang daya beli masyarakat. Mereka cenderung menunda membeli,” kata Lenny.
Penundaan pembelian tersebut kemudian mendorong sebagian calon konsumen memilih menyewa terlebih dahulu. Bagi pelaku usaha, keputusan menyewa dinilai lebih fleksibel karena tidak membutuhkan modal awal sebesar pembelian properti.
Pelaku Usaha Pilih Sewa untuk Menjaga Cash Flow
Fenomena tersebut terutama terlihat pada properti komersial seperti ruko dan gudang. Agen GadingPro Surabaya melihat semakin banyak pelaku usaha yang sebelumnya mempertimbangkan membeli ruko, tetapi akhirnya memilih menyewa.
Pertimbangannya bukan semata-mata harga properti yang tinggi. Biaya renovasi, kebutuhan modal kerja, serta ketidakpastian perkembangan bisnis juga menjadi faktor.
“Kalau beli, modal awalnya lebih besar. Sekarang uang cash lebih baik digunakan untuk ketahanan usaha,” jelasnya.
Bagi bisnis seperti kuliner, misalnya, fleksibilitas menjadi pertimbangan penting. Menurut pengalaman para agen, pergantian tenant di sejumlah lokasi berlangsung cukup cepat. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha lebih berhati-hati mengeluarkan modal untuk membeli aset properti.
Sementara itu, permintaan terhadap gudang dinilai masih cukup kuat. Kebutuhan ruang penyimpanan dari pelaku usaha membuat tingkat okupansi gudang relatif terjaga.
Hunian Sewa Tetap Dibutuhkan
Pada segmen hunian, kebutuhan sewa juga datang dari mahasiswa, pekerja, maupun keluarga yang sedang berada dalam masa transisi.
Apartemen menjadi salah satu pilihan, khususnya untuk mahasiswa dan pekerja yang membutuhkan lokasi dekat kampus atau pusat aktivitas. Sementara rumah sewa juga masih diminati, termasuk oleh mahasiswa yang menyewa bersama beberapa teman untuk menekan biaya.
“Kalau apartemen biasanya untuk anak-anak kuliah atau pekerja. Kalau rumah, mahasiswa juga banyak yang sewa bersama-sama,” ujar Lenny.
Menurutnya, pilihan sewa tersebut tidak selalu berarti konsumen tidak memiliki kemampuan membeli. Sebagian memang memilih menunda pembelian sambil melihat perkembangan kondisi ekonomi dan kebutuhan finansial mereka.
Digitalisasi Mengubah Cara Agen Mencari Konsumen
Perubahan perilaku pasar juga diikuti perubahan cara kerja agen properti. Jika sebelumnya brosur, banner, dan jaringan kantor menjadi sumber utama pemasaran, kini media sosial dan platform properti menjadi kanal penting untuk memperoleh database calon konsumen.
Para agen GadingPro Surabaya menyebut media sosial menjadi salah satu sumber database utama. Agen juga dituntut aktif membangun listing sendiri dan tidak hanya mengandalkan listing yang tersedia dari kantor.
Bagi mereka, membangun hubungan langsung dengan pemilik properti tetap menjadi bagian penting dalam pekerjaan agen.
“Pencarian listing juga untuk pengenalan dengan pemilik. Kalau dengan pemilik kita harus punya kedekatan supaya komunikasinya lancar,” jelasnya.
Dalam praktiknya, agen tidak hanya berperan sebagai pihak yang mempertemukan penjual dan pembeli. Agen juga dituntut memahami kebutuhan kedua pihak, membantu proses negosiasi, serta menjadi konsultan dalam menentukan pilihan properti.
Harga Properti Perlu Lebih Realistis
Di tengah perlambatan transaksi, persoalan harga menjadi salah satu tantangan yang cukup menonjol. Para agen berharap pemilik properti dapat menyesuaikan ekspektasi harga dengan kondisi pasar.
Menurut mereka, harga yang terlalu tinggi berpotensi membuat calon pembeli mundur dan memperpanjang waktu pemasaran.
“Pemilik sebaiknya mengikuti harga pasaran. Kalau memang sudah terlalu tinggi, paling tidak penawaran yang masuk dipertimbangkan terlebih dahulu,” ungkapnya.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa pemilik yang membutuhkan dana dalam waktu relatif cepat terkadang akhirnya menerima harga lebih rendah dibandingkan penawaran yang sebelumnya pernah ditolak.
Para agen juga mengamati adanya peningkatan properti yang masuk proses lelang akibat pemilik mengalami kesulitan memenuhi kewajiban pembiayaan. Kondisi tersebut, menurut mereka, menjadi salah satu indikasi bahwa tekanan terhadap sebagian pemilik aset dan debitur perlu diperhatikan.
Namun, pengalaman tersebut merupakan pengamatan agen di lapangan dan tidak dapat dijadikan ukuran statistik mengenai keseluruhan pasar properti Surabaya.
Sertifikasi Agen Jadi Bekal Profesionalisme
Di tengah perubahan pasar, profesionalisme agen menjadi semakin penting. Lenny Shu, Kevin Lim, dan Henny Puspitasari merupakan bagian dari agen GadingPro Surabaya yang telah menyelesaikan ujian sertifikasi agen properti di LSP Area.
Sertifikasi menjadi salah satu bekal untuk meningkatkan kompetensi agen, terutama ketika transaksi properti semakin kompleks dan konsumen membutuhkan pendampingan yang lebih profesional.
Bagi para agen, kondisi pasar yang melambat bukan berarti aktivitas properti berhenti. Justru, perubahan perilaku konsumen membuka ruang bagi agen untuk lebih memahami kebutuhan pasar, memperkuat jaringan, serta menawarkan solusi yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan konsumen.
Pasar Surabaya saat ini memperlihatkan pola yang cukup jelas: ketika pembelian ditunda, kebutuhan terhadap properti tidak serta-merta hilang. Sebagian bergeser menjadi kebutuhan sewa, terutama untuk hunian, ruang usaha, dan gudang.
Dengan demikian, dinamika pasar properti Surabaya pada 2026 tidak hanya berbicara mengenai naik atau turunnya transaksi, tetapi juga perubahan cara masyarakat menggunakan dan mengakses properti.
















