
Propertynbank.com – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperluas penjaringan inovasi di sektor perumahan melalui program BTN Housingpreneur Batch 3. Kali ini, BTN menggandeng kalangan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendorong lahirnya gagasan dan teknologi yang dapat menjawab tantangan penyediaan hunian terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Timur ITB, Selasa (13/10), tersebut melibatkan mahasiswa, dosen, peneliti, serta sivitas akademika untuk mengembangkan berbagai ide yang berpotensi diterapkan dalam industri perumahan. Inisiatif ini sekaligus membuka ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelaku industri agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Regional Office Head BTN Kantor Wilayah Jawa Barat, Asvianti Handaru, mengatakan bahwa sektor perumahan memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada pembangunan rumah dan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Menurutnya, ekosistem perumahan berkaitan dengan sekitar 130 industri turunan dan sektor pendukung. Di dalamnya termasuk arsitektur, desain, material bangunan, teknologi konstruksi, digitalisasi, konsep smart living, pembiayaan, hingga aspek keberlanjutan.
Besarnya cakupan tersebut membuat pengembangan perumahan membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu. Inovasi di bidang material, metode pembangunan, teknologi, maupun desain dapat menjadi bagian penting dalam meningkatkan efisiensi pembangunan dan kualitas hunian.
“Karena itu, pengembangan sektor perumahan membutuhkan kolaborasi dari berbagai bidang keahlian. Inilah yang menjadi salah satu landasan pengembangan BTN Housingpreneur yang kami perkenalkan di ITB,” ujar Asvianti dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10).
Ia menambahkan, melalui BTN Housingpreneur Batch 3, BTN ingin menjaring ide yang dapat menjawab tantangan perumahan nasional, termasuk mendukung program pembangunan 3 juta rumah. Tantangannya tidak hanya terletak pada peningkatan jumlah rumah yang dibangun, tetapi juga bagaimana menghadirkan hunian yang terjangkau, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
BTN membuka kesempatan bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti untuk membawa gagasan yang berasal dari riset, tugas perkuliahan, maupun pengalaman di lapangan. Gagasan tersebut diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pengujian, pendampingan, dan kolaborasi dengan pelaku industri.
Proteka, Inovasi Perkuatan Bangunan untuk Mengurangi Risiko Gempa
Salah satu contoh inovasi yang lahir dari BTN Housingpreneur 2025 adalah Proteka, solusi perkuatan bangunan yang dikembangkan oleh Zamzam Multazam. Inovasi ini menggunakan teknologi fiber-reinforced coating atau pelapis yang diperkuat serat untuk membantu meningkatkan ketahanan dinding bangunan terhadap guncangan gempa.
Proteka dikembangkan sebagai alternatif perkuatan bangunan yang dapat diaplikasikan pada permukaan dinding tanpa selalu membutuhkan pembongkaran berskala besar. Teknologi tersebut berpotensi dimanfaatkan pada bangunan eksisting, termasuk rumah tinggal dan sekolah, dengan tetap memperhatikan kondisi bangunan serta hasil evaluasi teknis.
Pengembangan solusi seperti Proteka menjadi relevan bagi Indonesia yang memiliki risiko gempa bumi di berbagai wilayah. Kerusakan dinding maupun jatuhnya material bangunan ketika terjadi gempa dapat membahayakan penghuni, sehingga upaya mitigasi melalui evaluasi dan perkuatan bangunan menjadi bagian penting dalam meningkatkan keselamatan.
Proteka juga telah terlibat dalam penerapan dan pengujian teknologi perkuatan, antara lain pada proyek perkuatan bangunan sekolah di Lembang, Bandung. Pengujian menggunakan shake table test atau meja getar turut dilakukan untuk mempelajari respons dinding bata dengan dan tanpa lapisan perkuatan ketika menghadapi simulasi guncangan gempa.
Kehadiran inovasi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan sektor perumahan tidak hanya berkaitan dengan penambahan pasokan unit, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas bangunan, keselamatan penghuni, dan penerapan teknologi konstruksi yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
Kembangkan Rumah Rendah Emisi Berbasis Daur Ulang
Selain mendorong inovasi konstruksi, BTN juga memperluas perhatian pada aspek lingkungan melalui Program Rumah Rendah Emisi yang diluncurkan pada kuartal IV 2024 bersama sejumlah pengembang.
Program ini melibatkan perusahaan rintisan yang mengolah sampah plastik rumah tangga menjadi material bangunan. Limbah seperti bungkus mi instan serta kemasan sachet sabun dan sampo dikembangkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan konstruksi, termasuk lantai, paving, dan dinding.
Sejumlah startup yang terlibat antara lain Rebrick, Plustik, dan Green Brick. Melalui kemitraan tersebut, BTN berupaya memperluas pemanfaatan material alternatif sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha di berbagai daerah untuk berkontribusi dalam pengembangan hunian yang lebih ramah lingkungan.
Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa inovasi perumahan dapat dikembangkan dari berbagai sektor, mulai dari teknologi material dan pengelolaan limbah hingga sistem pembiayaan dan proses pembangunan. Kolaborasi antara pengembang, startup, lembaga keuangan, dan akademisi menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas penerapan solusi tersebut.
BTN Housingpreneur Batch 3 Jembatani Riset Kampus
Direktur Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. apt. Muhamad Insanu, S.Si., M.Si., menyambut positif kolaborasi BTN dengan perguruan tinggi. Menurutnya, kerja sama semacam ini dapat memperluas wawasan mahasiswa sekaligus mendorong agar hasil penelitian memberikan manfaat yang lebih luas.
Ia menilai perguruan tinggi perlu terus memperkuat hubungan dengan industri agar pengetahuan dan hasil riset dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Hal yang ingin saya garis bawahi adalah peran perguruan tinggi. Sudah saatnya hasil penelitian tidak hanya berhenti sebagai data atau publikasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkap Insanu.
Sementara itu, Ketua Program Master dan Doktor Arsitektur Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, Dr. Eng. Ar. M. Donny Koerniawan, S.T., M.T., IAI, menilai BTN Housingpreneur Batch 3 dapat menjadi penghubung antara hasil penelitian dan kebutuhan pasar.
Ia menjelaskan, banyak inovasi yang dihasilkan kalangan akademisi memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Namun, tidak semuanya berhasil mencapai tahap implementasi karena terkendala pendanaan, keterbatasan minat produsen, serta belum terbangunnya jaringan yang memadai dengan industri.
Kondisi tersebut dikenal sebagai death valley, yakni fase ketika inovasi sulit beralih dari hasil penelitian menuju produk atau solusi yang dapat digunakan secara luas.
Menurut Donny, diperlukan kolaborasi yang melibatkan akademisi, pelaku bisnis, produsen, pemerintah, dan masyarakat agar berbagai hasil penelitian dapat melewati tahapan pengembangan tersebut.
“Saya melihat BTN Housingpreneur Batch 3 sebagai peluang yang sangat baik. BTN berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dengan mempertemukan akademisi, pelaku bisnis, dan produsen,” kata Donny.
Melalui kegiatan ini, BTN dan ITB berharap semakin banyak inovasi yang dapat dikembangkan menjadi solusi praktis untuk sektor perumahan. Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga diharapkan memperluas peluang pemanfaatan teknologi konstruksi, material alternatif, serta gagasan hunian berkelanjutan dalam menjawab kebutuhan perumahan nasional.

















