
Property&Bank.com – Persaingan industri properti Indonesia memasuki babak baru. Jika sebelumnya pembangunan proyek baru menjadi tolak ukur pertumbuhan, kini kualitas aset yang dimiliki justru menjadi faktor utama dalam memenangkan pasar.
Hal tersebut disampaikan Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, saat memaparkan laporan Perkembangan Sektor Properti Q2 2026. Menurutnya, perubahan perilaku konsumen dan dinamika ekonomi membuat hampir seluruh sektor properti mengalami pergeseran strategi, mulai dari perkantoran, apartemen, pusat perbelanjaan, hotel, hingga kawasan industri.
Ferry menjelaskan, pasar kini tidak lagi memberikan keuntungan kepada pelaku usaha yang paling agresif membangun proyek baru. Sebaliknya, pasar lebih menghargai pengembang yang mampu meningkatkan kualitas aset, menghadirkan pengalaman terbaik bagi pengguna, serta menawarkan produk yang benar-benar sesuai kebutuhan.
“Yang menang bukan lagi yang paling banyak membangun, tetapi yang memiliki produk berkualitas dan relevan dengan kebutuhan pasar,” ujarnya pada Rabu (8/7).
Menurut Ferry, perubahan tersebut terlihat hampir di seluruh sektor properti. Mulai dari perkantoran, apartemen, ritel, hotel, hingga kawasan industri, masing-masing menunjukkan kecenderungan yang sama, yakni optimalisasi aset eksisting dibanding melakukan ekspansi secara agresif.
Colliers Indonesia Nilai Kualitas Aset Lebih Penting dari Ekspansi
Pada sektor perkantoran, Colliers Indonesia mencatat pasar Jakarta masih berada dalam fase tenant market. Tingginya ruang kosong yang mencapai sekitar 3 juta meter persegi, terdiri atas 1,76 juta meter persegi di CBD dan 1,23 juta meter persegi di luar CBD, membuat penyewa memiliki banyak pilihan.
Namun, harga sewa bukan lagi menjadi faktor utama. Ferry mengatakan penyewa kini lebih mempertimbangan kualitas gedung, efisiensi operasional, konsep green building, akses transportasi publik, hingga ketersediaan ruang kantor siap pakai. Karena itu, pengembang memilih meningkatkan kualitas gedung yang sudah ada dibanding membangun proyek baru.
Pada sektor apartemen, strategi serupa juga terlihat. Pengembang lebih fokus menjual unit yang telah dibangun daripada meluncurkan proyek baru. Di sisi lain, pembeli end-user kini mengambil porsi lebih besar dibanding investor, sehingga produk yang sesuai kebutuhan masyarakat menjadi lebih penting daripada sekadar menambah pasokan.
Di pasar hunian ekspatriat, Colliers melihat adanya pertumbuhan permintaan yang didorong ekspansi perusahaan asing. Ferry menilai properti dengan kualitas bangunan, fasilitas lengkap, dan layanan yang baik akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dalam kondisi pasar saat ini.
Sementara pada sektor ritel, penngembang kini lebih memilih melakukan renovasi dan meningkatkan kualitas pusat perbelanjaan dibanding membangun mal baru. Menurut Ferry, keberhasilan sebuah mal ditentukan oleh kemampuan bertransformasi agar tetap relevan dengan konsumennya, melalui bauran penyewa yang tepat, pengalaman berbelanja yang menarik, dan tingginya jumlah pengunjung.
Transformasi juga terjadi di industri hotel Jakarta dan Bali. Ferry mengatakan keberhasilan hotel saat ini tidak lagi diukur dari banyaknya jumlah kamar, melainkan dari kemaampuan menciptakan kepuasan tamu melalui pengalaman menginap yang lebih personal serta diversifikasi layanan dan sumber pendapatan.
Sementara itu, kawasan industri Semarang Raya dinilai semakin kompetitif berkat berkembangnya ekosistem industri yang lebih beragam. Selain harga lahan yang masih lebih kompetitif dibanding Jakarta dan Surabaya, kawasan ini mulai menarik investasi manufaktur bernilai tambah hingga data center. Kondisi tersebut membuat daya saing Semarang Raya tidak lagi hanya bertumpu pada biaya, tetapi juga kualitas ekosistem industrinya.
Ferry menilai transformasi yang terjadi di berbagai sektor menunjukkan bahwa pelaku industri tidak lagi dapat mengandalkan strategi lama. Kemampuan meningkatkan kualitas aset, memahami perubahan preferensi konsumen, serta menciptakan nilai tambah akan menjadi faktor yang menentukan keberhasilan bisnis properti di tengah persaingan yang semakin ketat.
Dengan perubahan tersebut, Ferry menegaskan bahwa industri properti industri Indonesia tengah memasuki era baru. Pelaku usaha yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar, meningkatkan kualitas aset, dan menghadirkan produk yang relevan akan memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan persaingan di tengah kondisi pasar yang semakin selektif.















