
Propertynbank : Keberaniannya membangun pusat perbelanjaan di tengah persawahan Bekasi hingga kiprah sosial melalui Yayasan Metropolitan Peduli, menggambarkan perjalanan sosok Nanda Widya yang memberikan refleksi tentang kepemimpinan, ketekunan, dan arti sebuah keberhasilan.
Di dunia properti, keberanian membaca peluang kerap menjadi pembeda antara mereka yang sekadar mengikuti perkembangan pasar dan mereka yang berani membentuk arah pertumbuhan sebuah kawasan. Namun, keberanian saja tidak cukup. Dibutuhkan pengalaman, ketekunan, kemampuan membaca risiko, serta keyakinan untuk menjalankan gagasan hingga menjadi kenyataan.
Nilai-nilai itulah yang dapat ditelusuri melalui buku biografi Nanda Widya: Belajar & Bekerja Sepenuh Hati. Buku ini mengangkat perjalanan hidup dan filosofi kepemimpinan Nanda Widya, tokoh yang dikenal melalui kiprahnya di industri properti nasional serta keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosial.
Salah satu bagian menarik dari perjalanan Nanda adalah ketika ia bersama timnya membangun Metropolitan Mall di Bekasi pada awal 1990-an. Saat itu, kawasan yang menjadi lokasi pembangunan masih berupa persawahan. Bekasi pun belum memiliki banyak pusat perbelanjaan modern maupun hotel berbintang seperti yang dikenal sekarang.
Keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Membangun pusat perbelanjaan di kawasan yang belum berkembang menjadi pusat aktivitas komersial membutuhkan keyakinan terhadap potensi pasar yang belum sepenuhnya terbentuk.
“Ketika awal mula akan membangun mal (Metropolitan Mall) di tengah sawah, kami dianggap orang nekat,” tutur Nanda Widya dalam kisah yang dimuat pada bahan biografi tersebut.
Ia juga mengenang keputusan membangun Hotel Horison Bekasi, yang pada awal 1990-an dinilai terlalu berani karena saat itu belum terdapat hotel berbintang di kawasan tersebut.
Kisah ini memperlihatkan salah satu sisi penting dalam bisnis properti: keberanian mengambil keputusan tidak semata-mata bertumpu pada optimisme, tetapi juga menuntut kesiapan untuk bekerja keras, mengukur peluang, dan membangun kepercayaan pasar.
Lulusan Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang menyelesaikan pendidikannya pada 1979 ini mengawali karier sebagai kontraktor. Namun, perjalanan profesionalnya kemudian membawanya memasuki dunia pengembangan properti.
Salah satu sosok yang memberi pengaruh dalam perjalanan tersebut adalah Ciputra, pendiri Ciputra Group yang akrab disapanya dengan sebutan Pak Ci.
Pertemuan dengan tokoh legendaris properti nasional itu menumbuhkan minat Nanda untuk menjadi pengembang. Ia melihat dunia developer menawarkan ruang lebih luas untuk menghasilkan karya, dibandingkan pekerjaan kontraktor yang umumnya menjalankan proyek berdasarkan pesanan atau kebutuhan pengembang.
Dalam salah satu nasihat yang dikenangnya, Ciputra menyampaikan bahwa pembangunan mal dapat dilakukan apabila sekitar 30 persen ruangnya sudah tersewa. Pesan tersebut menegaskan pentingnya memastikan adanya permintaan pasar sebelum sebuah proyek komersial direalisasikan.
Filosofi Kepemimpinan
Frasa belajar dan bekerja sepenuh hati yang menjadi judul buku ini menyimpan dua pesan yang saling berkaitan. Belajar berarti menjaga keterbukaan terhadap pengalaman, pengetahuan, dan perubahan. Sementara bekerja sepenuh hati menuntut kesungguhan, tanggung jawab, serta konsistensi dalam menjalankan pekerjaan.
Dalam industri properti yang memiliki siklus panjang dan dipengaruhi berbagai faktor ekonomi, sosial, serta perubahan kebutuhan masyarakat, kedua nilai tersebut memiliki arti penting. Seorang pengembang tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman masa lalu. Ia perlu terus memahami perubahan pasar, menyesuaikan strategi, dan memastikan setiap keputusan memiliki dasar pertimbangan yang jelas.
Filosofi tersebut juga mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau kewenangan. Kepemimpinan tumbuh melalui proses panjang, termasuk ketika seseorang harus menghadapi ketidakpastian, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Buku ini menghadirkan perjalanan Nanda sebagai ruang refleksi mengenai hubungan antara pengalaman, pembelajaran, dan pembentukan karakter profesional.

Hal lain yang menarik dari buku ini adalah keterkaitan antara pencapaian profesional dan kepedulian sosial. Di luar kiprahnya di industri properti, Nanda Widya dikenal sebagai pendiri Yayasan Metropolitan Peduli (YMP), yang telah menjalankan berbagai kegiatan sosial selama 26 tahun.
Program Indonesia Tersenyum, misalnya, memberikan layanan operasi bibir sumbing secara gratis bagi ribuan anak. Selain itu, terdapat kegiatan bakti sosial, pengobatan gratis, serta dukungan terhadap Sekolah Darurat Kartini.
Berbagai kegiatan tersebut memberikan dimensi lain dalam membaca perjalanan seorang pelaku usaha. Keberhasilan bisnis tidak hanya dapat dilihat dari pertumbuhan perusahaan, nilai aset, atau proyek yang berhasil dikembangkan, tetapi juga dari bagaimana sumber daya dan pengalaman yang dimiliki dapat memberi manfaat kepada masyarakat.
Dalam konteks ini, bekerja sepenuh hati memperoleh makna yang lebih luas. Kesungguhan tidak berhenti pada pencapaian target perusahaan, tetapi dapat pula diwujudkan melalui kepedulian terhadap persoalan sosial dan kebutuhan kelompok masyarakat yang memerlukan dukungan.
Bagi kalangan bisnis dan profesional, perspektif tersebut menghadirkan pertanyaan penting: bagaimana keberhasilan yang diraih melalui dunia usaha dapat memberikan nilai tambah bagi lingkungan di sekitarnya?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika tanggung jawab sosial dan keberlanjutan menjadi bagian dari pembahasan mengenai peran perusahaan dalam pembangunan.
Buku biografi ini juga menghadirkan testimoni lebih dari 50 narasumber. Kehadiran berbagai perspektif tersebut menjadi salah satu pendekatan untuk memahami perjalanan Nanda, tidak hanya melalui pengalaman pribadinya, tetapi juga melalui pandangan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya.
Dalam sebuah biografi, kesaksian dari kolega, rekan kerja, dan orang-orang yang mengenal tokoh yang diulas dapat membantu memperlihatkan bagaimana nilai-nilai kepemimpinan tercermin dalam kehidupan profesional maupun sosial.
Namun, kekuatan biografi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya narasumber. Kedalaman cerita, konteks di balik keputusan penting, serta gambaran mengenai tantangan yang dihadapi juga menjadi unsur yang menentukan kualitas sebuah kisah perjalanan hidup.
Karena itu, buku ini menarik dibaca sebagai pengantar untuk memahami filosofi Nanda Widya. Penilaian lebih menyeluruh terhadap kekuatan narasi, gaya penulisan, dan kedalaman penggambaran tokoh tentu memerlukan pembacaan langsung atas keseluruhan isi buku.
Disnilah filosofi belajar dan bekerja sepenuh hati menemukan relevansinya: bukan sekadar menjadi semboyan, melainkan prinsip yang perlu dibuktikan melalui keputusan, tindakan, dan konsistensi dalam perjalanan hidup.

















