
Propertynbank.com – Rumah subsidi di Bengkulu tidak hanya diminati pasangan muda yang baru menikah dan pekerja dengan penghasilan terbatas. Kalangan mahasiswa juga mulai melirik hunian bersubsidi sebagai alternatif tempat tinggal selama kuliah sekaligus investasi untuk masa depan.
Muhammad Saleh Siregar, Manager sekaligus Founder Bengkulu Properti, mengatakan bahwa minat masyarakat terhadap rumah subsidi di Bengkulu saat ini cukup tinggi. Salah satu kelompok konsumen yang mulai terlihat adalah anak muda yang sudah bekerja maupun mahasiswa yang pembelian rumahnya masih dibantu orang tua.
Menurut Saleh, sebagian mahasiswa membeli rumah untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal selama menempuh pendidikan. Namun, setelah mendapatkan penjelasan dari agen properti, mereka mulai memahami bahwa rumah juga dapat dimanfaatkan untuk investasi dalam jangka panjang.
“Ketika kami bertanya apakah mereka sudah punya rumah dan selama ini tinggal di mana, sebagian menjawab masih kos atau mengontrak. Dari situ kami memberikan pemahaman bahwa daripada uang habis untuk membayar sewa, mereka bisa mempertimbangkan membeli rumah sesuai kemampuan,” ujar Saleh.
Ia menjelaskan, rumah yang dibeli saat masa kuliah tidak harus berhenti menjadi tempat tinggal setelah pemiliknya menyelesaikan pendidikan. Properti tersebut dapat ditempati sendiri, digunakan oleh anggota keluarga lain, atau dijual ketika pemiliknya membutuhkan dana maupun ingin berpindah ke hunian yang lebih besar.
Cara pandang ini menjadi salah satu pendekatan yang dilakukan Bengkulu Properti untuk memperkenalkan kepemilikan rumah kepada konsumen muda. Menurut Saleh, banyak calon pembeli awalnya hanya memikirkan kebutuhan tempat tinggal, tetapi belum mempertimbangkan potensi penggunaan rumah dalam jangka panjang.
Di tengah kenaikan biaya sewa hunian dan kebutuhan tempat tinggal selama kuliah, kepemilikan rumah subsidi dapat menjadi dalah satu pilihan yang dipertimbangkan. Meski begitu, keputusan membeli rumah tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan, kebutuhan tempat tinggal, serta kesiapan memenuhi kewajiban cicilan.
Harga Rumah Subsidi Bengkulu Mulai Rp166 Juta

Dari sisi harga, rumah subsidi menjadi salah satu segmen yang menarik bagi konsumen muda karena memiliki harga yang relatif terjangkau dibandingkan sejumlah pilihan rumah komersial. Saleh menyebut harga rumah subsidi di Bengkulu mengacu pada ketentuan pemerintah, yakni sekitar Rp166 juta. Sementara itu, harga pembelian secara tunai dapat dimulai dari sekitar Rp170 juta, bergantung pada pengembang, lokasi, dan biaya proses yang dikenakan.
Adapun rumah non-subsidi atau komersial yang dipasarkan Bengkulu Properti memiliki harga mulai sekitar Rp250 juta. Untuk rumah sekunder atau secondary, harga yang ditawarkan dapat ditemukan mulai dari kisaran Rp200 juta.
Perbedaan harga tersebut membuat rumah subsidi menjadi pilihan bagi konsumen yang baru memasuki dunia kerja atau sedang membangun kehidupan mandiri. Sementara itu, rumah komersial lebih banyak diminati konsumen yang telah menikah dan memiliki penghasilan lebih tinggi.
Saleh menilai, edukasi menjadi bagian penting dalam proses pemasaran rumah kepada mahasiswa dan anak muda. Agen tidak cukup hanya menawarkan unit, tetapi juga perlu menjelaskan manfaat kepemilikan rumah, pilihan pembiayaan, serta hal-hal yang harus dipertimbangkan sebelum membeli.
Salah satu hal yang disampaikan kepada calon pembeli adalah potensi kenaikan nilai properti dalam jangka panjang. Namun, ia mengakui bahwa keputusan investasi perlu mempertimbangkan lokasi, kondisi pasar, biaya kepemilikan, serta kebutuhan pemilik. Kenaikan harga rumah tidak selalu sama di setiap wilayah dan tidak dapat dijamin terjadi dalam periode tertentu.
Selain itu, konsumen juga perlu memahami bahwa pengalihan kredit atau take over bukan berarti seluruh uang yang sudah dibayarkan pasti kembali. Proses tersebut bergantung pada ketentuan pembiayaan, persetujuan pihak terkait, dan nilai transaksi yang disepakati.
Di luar faktor harga, perkembangan pasar properti Bengkulu juga dipengaruhi kemudahan masyarakat dalam memperoleh informasi dan pendampingan ketika membeli rumah. Saleh mengatakan, sebelum agen pemasaran semakin dikenal, sebagai calon pembeli menganggap proses pengajuan KPR cukup sulit. Kehadiran agen properti dinilai dapat membantu konsumen mehamai pilihan hunian dan tahapan pembelian.
Saat ini, Bengkulu Properti memasarkan rumah melalui 2 pendekatan, yaitu secara langsung dan digital. Untuk pemasaran offline, Saleh membangun komunikasi dengan masyarakat, menggali kebutuhan tempat tinggal mereka, dan memperkenalkan layanan melalui kartu nama. Sementara itu, pemasaran online dilakukan melalui website, TikTok, Instagram, dan market place.
Selain rumah subsidi dan rumah komersial, Bengkulu Properti juga mulai menjajaki pemasaran rumah lelang dari pebankan serta rumah sekunder. Langkah ini dilakukan untuk memperluas pilihan bagi calon pembeli di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap rumah dan keterbatasan jumlah listing yang tersedia.
Saleh berhara semakin banyak masyarakat Bengkulu yang dapat memiliki rumah melalui proses pembelian yang aman dan sesuai kemampuan. Ia juga menekankan pentingnya memilih agen pemasaran yang profesional agar konsumen memperoleh informasi yang jelas dan terhindar dari praktik penipuan, serta pembayaran uang muka tanpa kejelasan pembangunan rumah.
Setelah dinyatakan kompeten dalam uji sertifikasi agen properti di LSP AREA Indonesia, Saleh berharap sertifikasi tersebut dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi pemasar properti.
Baginya, tujuan utama pemasaran bukan sekadar menjual rumah, melainkan membantu masyarakat menemukan hunian yang sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial. Edukasi kepada mahasiswa dan konsumen muda pun menjadi salah satu upaya memperkenalkan kepemilikan rumah sejak dini, baik untuk kebutuhan tempat tinggal maupun sebagai aset yang dapat dimanfaatkan pada masa mendatang.
















