
Propertynbank.com – Segmen properti komersial diperkirakan akan mengalami perubahan strategi pengembangan di tengah tekanan biaya konstruksi dan perlambatan ekonomi. Pengembang maupun investor diprediksi lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi.
Head of Research & Consultancy PT Leads Property Services Indonesia, Martin Hutapea menegaskan, pada sektor retail, pembangunan pusat perbelanjaan berskala besar diperkirakan semakin terbatas. Tingginya biaya pembangunan serta belum optimalnya tingkat penyerapan tenant membuat sejumlah proyek mixed-use dengan komponen mal berpotensi mengalami penundaan.
“Selain itu, melemahnya daya beli masyarakat juga dapat memengaruhi tingkat okupansi karena sebagian tenant diperkirakan akan lebih berhati-hati melakukan ekspansi,” ungkap Martin beberapa waktu lalu.
Sebaliknya, konsep retail compound dengan ruang terbuka dinilai lebih realistis dikembangkan karena membutuhkan investasi dan biaya operasional yang lebih rendah. Revitalisasi mal eksisting, khususnya yang berada di dekat kawasan TOD, juga diperkirakan akan semakin banyak dilakukan.
Pemilik pusat perbelanjaan diprediksi semakin fleksibel dalam menyusun strategi penyewaan, termasuk membuka peluang lebih besar bagi local brand, pop-up store maupun operator co-working space. Sementara itu, pusat perbelanjaan yang mengedepankan konsep lifestyle, kuliner, olahraga dan hiburan diperkirakan masih akan menjadi destinasi favorit masyarakat.
Sedangkan untuk sektor hotel, menurut Martin tekanan diperkirakan datang dari potensi melemahnya permintaan wisata domestik maupun kegiatan MICE. Tingginya biaya investasi juga membuat pembangunan hotel baru semakin menantang.
Namun peluang investasi masih terbuka melalui akuisisi hotel eksisting maupun kerja sama investasi (joint venture) terhadap aset hotel yang berada di lokasi strategis dengan valuasi yang lebih kompetitif. “Operator hotel juga diperkirakan akan lebih fokus membidik wisatawan mancanegara sebagai sumber pertumbuhan okupansi,” ujarnya.
Sementara pada sektor industri, investor diprediksi akan lebih berhati-hati dalam membangun fasilitas manufaktur baru akibat ketidakpastian ekonomi serta meningkatnya biaya konstruksi.
Di sisi lain, permintaan terhadap bangunan pabrik siap pakai (ready-built factory) dan pergudangan diperkirakan meningkat karena perusahaan memilih menyewa dibanding membangun fasilitas baru. “Keterbatasan pasokan baru juga berpotensi menjaga tingkat okupansi dan stabilitas harga sewa kawasan industri,” tutup Martin.
















