Skip to main content

Property & Bank

Knight Frank : Pasar Properti Jakarta Masih Selektif, Namun Peluang Tetap Terbuka

pasar properti indonesia, kawasan industri, pasar properti jakarta
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat

Propertynbank.com – Pasar properti Jakarta pada semester pertama 2026 menunjukkan sinyal pemulihan yang semakin nyata, meskipun lajunya masih berlangsung secara bertahap. Sejumlah sektor properti komersial seperti apartemen sewa, perkantoran, dan kondominium tercatat mengalami perbaikan kinerja di tengah berbagai tantangan ekonomi global maupun domestik yang masih membayangi.

Temuan tersebut disampaikan Knight Frank Indonesia dalam laporan pasar properti semester I-2026. Secara umum, pemulihan terlihat dari meningkatnya aktivitas penyewaan ruang kantor, membaiknya harga sewa apartemen serviced apartment, hingga tetap kuatnya permintaan pada segmen kondominium kelas menengah atas dan premium.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, menjelaskan bahwa pasar properti saat ini bergerak lebih selektif dibandingkan periode sebelum pandemi. Konsumen maupun investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, namun tetap mencari produk properti yang menawarkan kualitas, lokasi strategis, dan nilai investasi jangka panjang.

“Pasar properti Jakarta saat ini masih berada dalam fase pemulihan. Namun yang menarik, segmen premium dan properti yang memiliki diferensiasi kuat tetap menunjukkan daya tahan yang baik. Ini terlihat pada pasar apartemen sewa, perkantoran premium, hingga kondominium kelas atas yang masih mampu menarik permintaan,” ujar Syarifah Syaukat.

Apartemen Sewa Masih Didominasi Ekspatriat

Pada sektor apartemen sewa, Knight Frank mencatat total pasokan masih berada di angka 9.843 unit sepanjang semester pertama 2026. Tingkat hunian rata-rata tercatat sebesar 67,6%, sedikit terkoreksi dibandingkan periode sebelumnya.

Meski demikian, pasar apartemen sewa menunjukkan tren perbaikan, terutama pada serviced apartment yang mencatat kenaikan harga sewa sekitar 2% secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, harga sewa apartemen non-serviced masih mengalami koreksi tipis sekitar 1%.

Menurut Syarifah, pasar apartemen sewa Jakarta masih didominasi oleh penyewa ekspatriat, khususnya dari kawasan Asia Timur. Selain itu, ekspatriat asal Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah juga masih menjadi kontributor penting terhadap permintaan apartemen sewa di kawasan CBD maupun Prime Non-CBD.

“Segmen apartemen sewa memang merupakan pasar yang spesifik dengan target penyewa yang relatif terbatas. Namun keberadaan ekspatriat dan corporate tenant masih menjadi faktor utama yang menopang permintaan,” jelasnya.

Knight Frank juga memperkirakan akan ada tambahan sekitar 872 unit apartemen sewa baru yang masuk pasar hingga 2028. Kawasan CBD masih menjadi lokasi paling diminati dengan tingkat hunian yang lebih tinggi dibandingkan submarket lainnya.

Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menilai persaingan di sektor apartemen sewa semakin ketat sehingga pengelola tidak lagi hanya mengandalkan kualitas bangunan semata.

“Keunggulan saat ini ditentukan oleh kemampuan menghadirkan pengalaman tinggal yang lebih baik melalui layanan yang inovatif, fleksibel, dan sesuai kebutuhan penyewa. Kolaborasi dengan sektor kreatif, pariwisata, dan ekosistem bisnis juga menjadi strategi penting untuk menciptakan sumber permintaan baru,” kata Willson.

Green Office Jadi Magnet Tenant Baru

Sementara itu, sektor perkantoran CBD Jakarta menunjukkan pemulihan yang lebih konsisten. Total pasokan ruang kantor masih tetap berada di angka 7,32 juta meter persegi karena belum adanya tambahan pasokan baru dalam tiga tahun terakhir.

Tingkat hunian kantor CBD Jakarta meningkat tipis menjadi 80%, sedangkan rata-rata harga sewa tumbuh sekitar 3% secara tahunan. Sepanjang 2025, serapan ruang kantor tercatat mencapai 47.466 meter persegi.

Knight Frank mencatat tren relokasi atau flight to quality masih menjadi faktor dominan dalam pasar perkantoran. Banyak perusahaan memilih berpindah ke gedung yang menawarkan kualitas bangunan lebih baik, aksesibilitas yang tinggi, serta fleksibilitas dalam skema sewa.

Kawasan Perkantoran Jakarta, pasar properti jakarta
Kawasan Perkantoran dan Apartemen di Jakarta.

Menariknya, gedung perkantoran berkonsep green office semakin diminati oleh penyewa. Meski porsinya baru sekitar 37% dari total stok perkantoran CBD Jakarta, namun mampu menarik sekitar 41% tenant baru yang masuk ke kawasan tersebut.

“Green office tetap memiliki daya tarik yang tinggi karena sejalan dengan komitmen keberlanjutan perusahaan global maupun nasional. Faktor efisiensi operasional dan kenyamanan kerja juga menjadi pertimbangan utama tenant saat ini,” ujar Syarifah.

Willson Kalip menambahkan bahwa pasokan kantor yang relatif stagnan hingga dua tahun ke depan berpotensi mendukung proses pemulihan pasar secara berkelanjutan.

“Dengan pasokan yang masih terbatas hingga 2028, tren perbaikan performa perkantoran CBD berpotensi berlanjut, tentunya didukung oleh kondisi ekonomi dan sosial yang tetap kondusif,” katanya.

Kondominium Premium Tetap Resilien

Di sektor hunian vertikal strata title atau kondominium, Knight Frank mencatat total pasokan meningkat menjadi 249.107 unit setelah selesainya satu proyek baru di kawasan Prime Non-CBD.

Tingkat penjualan kumulatif tercatat mencapai 96,3%, dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen middle, upper middle, dan high-end yang masing-masing menyumbang 39%, 25%, dan 21% dari total penjualan.

Seluruh pasokan baru yang masuk pasar pada tahun ini berasal dari segmen premium. Hal ini menunjukkan bahwa pengembang masih melihat peluang yang cukup besar pada pasar kelas atas yang memiliki daya beli lebih kuat.

Meski demikian, pasar kondominium masih menghadapi persaingan ketat dengan rumah tapak di wilayah penyangga Jakarta serta pengembangan kawasan berbasis transit oriented development (TOD) yang semakin diminati masyarakat.

Menurut Syarifah, segmen menengah tetap menjadi fondasi utama permintaan hunian perkotaan sehingga pengembang perlu lebih cermat dalam merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar tersebut.

“Permintaan terbesar sebenarnya masih berasal dari segmen menengah. Karena itu pengembang perlu menyesuaikan strategi produk, harga, dan pemasaran agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas tanpa mengabaikan kualitas dan nilai investasi,” ujarnya.

Motor Utama Pasar Properti Jakarta

Secara keseluruhan, Knight Frank menilai stabilitas ekonomi, iklim investasi, dan keberlanjutan pembangunan infrastruktur akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pertumbuhan pasar properti Jakarta pada beberapa tahun mendatang. Di tengah pemulihan yang masih berlangsung, sektor-sektor premium dan properti berkualitas tinggi diperkirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan