
Propertynbank.com – Industri arsitektur dan bangunan kembali mendapatkan ruang untuk memperluas kolaborasi melalui ARCH:ID 2027. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) bersama CIS Exhibition resmi meluncurkan edisi ke-7 ARCH:ID yang akan berlangsung pada 15-18 April 2027 di ICE BSD City.
Mengusung tema kuratorial “Hidup Kedua – Second Life. A Next Chapter.“, ARCH:ID 2027 tidak hanya menawarkan pameran produk dan material, tetapi juga membawa gagasan mengenai bagaimana industri dapat menciptakan nilai yang lebih panjang dari sebuah bangunan, material, produk, maupun solusi desain.
Konsep tersebut menjadi salah satu upaya ARCH:ID untuk mempertemukan kebutuhan praktik arsitektur dengan perkembangan industri. Bagi produsen dan brand, tema “Hidup Kedua” dapat menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana inovasi material dan produk tidak berhenti pada fungsi awal, tetapi dapat dikembangkan untuk memiliki umur penggunaan yang lebih panjang.
Dari sisi industri properti dan konstruksi, pembahasan mengenai keberlanjutan juga semakin berkaitan dengan efisiensi, adaptasi bangunan, pemanfaatan material, hingga kemampuan sebuah proyek merespons perubahan kebutuhan dalam jangka panjang.
ARCH:ID 2027 Jadi Ruang Pertemuan Pelaku Industri
ARCH:ID 2027 akan dikuratori oleh Ar. Adi Purnomo, IAI (mamostudio); Ar. Osrithalita Gabriela, IAI (AGo Architects); dan Ar. Achmad Zakaria, IAI (Tata Habitat). Ketiganya akan mengeksplorasi tema “Hidup Kedua” melalui tiga lensa, yakni Lokasi, Iklim, dan Waktu.
Ketiga pendekatan tersebut melihat arsitektur tidak hanya sebagai produk akhir, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang dipengaruhi tempat, karakter iklim, budaya, kebutuhan masyarakat, serta perubahan fungsi dari waktu ke waktu.
“Keberlanjutan sudah menjadi bagian dari percakapan arsitektur, tetapi tantangannya adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi keputusan desain dan tindakan nyata. Melalui Hidup Kedua, kami ingin mencari langkah-langkah yang konkret untuk memperpanjang nilai, fungsi, dan manfaat dari apa yang telah dibangun,” ujar para kurator ARCH:ID 2027.
Bagi pelaku industri, pembahasan tersebut membuka peluang untuk memperkenalkan inovasi yang tidak hanya menjawab kebutuhan pembangunan baru, tetapi juga kebutuhan renovasi, adaptasi, penggunaan kembali, serta transformasi bangunan dan ruang.
Project Director CIS Exhibition, R. Arief Sofyan Rudiantoro, mengatakan ARCH:ID sejak awal hadir untuk membangun koneksi yang lebih bermakna antara arsitektur dan pelaku industri.
“Melalui Hidup Kedua, kami ingin membawa kolaborasi tersebut lebih jauh, dengan mendorong brand dan pelaku industri bukan hanya menampilkan produk, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana material, solusi, dan gagasan dapat memberikan nilai lebih setelah pameran selesai,” ujarnya.
Untuk mendukung interaksi antara pelaku industri dan profesional, ARCH;ID 2027 akan menghadirkan sejumlah program, di antaranya International Conference, Business Matching, Featured Exhibition, Talk Series, Hackathon, serta berbagai program industri dan networking lainnya.
Kehadiran Business Matching menjadi salah satu program yang menarik dari sisi bisnis karena dapat mempertemukan pelaku industri dengan calon mitra maupun profesional yang membutuhkan produk dan solusi untuk berbagai proyek. Sementara itu, program konferensi dan talk series dapat menjadi ruang pertukaran wawasan mengenai perkembangan arsitektur, material, teknologi, serta industri lingkungan binaan.
Secara keseluruhan, ARCH;ID 2027 menargetkan sekitar 40.000 pengunjung dengan area pameran seluas 22.000 meter persegi dan sekitar 1.000 booth.
Skala tersebut menunjukkan posisi ARCH:ID sebagai salah satu titik temu penting bagi ekosistem arsitektur dan bangunan di Indonesia. Arsitek, desainer, developer, kontraktor, produsen, brand, akademisi, instansi pemerintah, hingga profesional dari berbagai sektor lingkungan binaan akan bertemu dalam rangkaian acara tersebut.
Melalui tema “Hidup Kedua”, ARCH:ID 2027 tidak hanya mengajak industri berbicara mengenai apa yang sedang dibangun, tetapi juga mengenai nilai yang dapat terus diciptakan setelah pembangunan selesai.
Bagi industri properti dan bangunan, perspektif tersebut dapat menjadi bagian dari perubahan cara melihat sebuah proyek. Nilai sebuah bangunan tidak semata-mata ditentukan ketika proyek selesai dan mulai digunakan, tetapi juga dari kemampuannya untuk beradaptasi, memberikan manfaat lebih panjang, serta membuka peluang baru di masa mendatang.
















