
Propertynbank : Bintaro, Tangerang Selatan, terus berkembang menjadi salah satu kawasan yang menarik perhatian pasar properti. Di tengah hadirnya berbagai proyek baru, pasar rumah secondary justru ikut mendapatkan momentum dengan karakter transaksi yang cenderung lebih dinamis.
Di tengah peluang tersebut, kehadiran profesionalisme para agen properti menjadi semakin penting, terutama ketika konsumen membutuhkan pendampingan dalam proses transaksi.
Hal ini dirasakan Evinda, Konsultan Properti GadingPro Bintaro, menurutnya, kawasan Bintaro masih memiliki prospek yang menarik. Pasalnya pembangunan hunian dikawasan ini terus bertambah. Baik yang dilakukan pengembang Kawasan maupun munculnya berbagai cluster baru di sekitarnya.
“Sekarang ini banyak proyek-proyek hunian baru yang dibangun baik oleh pihak pengembang Bintaro Jaya sendiri, maupun hunian cluster-cluster yang dibangun pengembang lainnya. Ini tentunya menjadikan kawasan bintaro ini semakin menarik,” jelas Evinda.
Evinda yang memiliki pengalaman panjang sebagai agen property mengaku lebih nyaman menangani pasar secondary. Menurutnya, transaksi secondary memiliki keunggulan dari sisi kecepatan proses. Setelah transaksi mencapai tahap Akta Jual Beli (AJB), komisi sebagai agen relatif lebih cepat diterima. Kondisi ini berbeda dengan penjualan primary yang sangat bergantung pada tahapan pembangunan dan mekanisme pembayaran dari pengembang.
“Kalau secondary, prosesnya sudah kita closing AJB, langsung kita dibayar dan itu prosesnya cepat,” katanya.
Sementara untuk primary, menurut Evinda, komisi yang diperoleh bisa lebih menarik karena terdapat skema bonus dari pengembang. Namun, pencairannya membutuhkan waktu lebih panjang, bahkan bisa menunggu hingga rumah selesai dibangun.
Meski demikian, Evinda juga menilai kebutuhan konsumen terhadap rumah secondary juga cukup besar karena pembeli dapat lebih cepat menempati rumah.
Perjalanan Evinda di industri property, khususnya sebagai agen properti mengalami banyak perubahan. Sebelum bergabung dengan perusahaan properti profesional, ia mengawali karier sebagai broker tradisional atau yang kerap disebut agen BT.
Ia kemudian bergabung dengan Raywhite Indonesia, dan mendapatkan pelatihan yang lebih terstruktur. Materi yang diterimanya tidak hanya berkaitan dengan cara bertemu dan berkomunikasi dengan klien, tetapi juga mencakup aspek perpajakan dan proses transaksi properti.
“Dengan adanya training, kita belajar cara bertemu dengan klien, mengenai pajak, dan semuanya,” ungkapnya.
Perjalanan tersebut sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 melanda. Setelah sempat kembali menjalankan aktivitas sebagai broker tradisional, Evinda kemudian kembali ke lingkungan broker profesional dan sejak 2023 bergabung dengan Gading Pro di Bintaro.
Menurutnya, bergabung dengan jaringan profesional memberikan pengalaman berbeda dibandingkan ketika masih menjalankan bisnis secara tradisional. Salah satunya adalah akses terhadap pelatihan dan lingkungan kerja yang mendorong peningkatan kemampuan agen.
Menariknya, meski berpusat di Bintaro, cakupan listing yang ditanganinya tidak terbatas pada kawasan tersebut. Ia mengaku dapat menangani properti di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan klien dan jaringan yang dimiliki.
Menjaga Relasi, Bukan Sekadar Mengejar Closing
Bagi Evinda, keberhasilan menjadi konsultan properti tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa cepat seorang agen mendapatkan transaksi. Salah satu kunci yang ia pegang adalah menjaga hubungan dengan calon maupun mantan klien.
Ia mengaku tetap melayani klien meskipun sebuah proses belum tentu menghasilkan transaksi dalam waktu dekat. Menurutnya, hubungan yang terjaga dapat menjadi sumber peluang baru di kemudian hari.
“Jangan patah semangat. Walaupun saya tidak terbayar, saya tetap layani. Kita tidak tahu rezeki itu kapan,” katanya.
Strategi tersebut membuat jaringan relasi menjadi salah satu sumber listing bagi Evinda. Klien yang sebelumnya pernah berhubungan dengannya dapat kembali memberikan informasi mengenai properti milik teman atau kerabat yang hendak dijual.
Baginya, pekerjaan konsultan properti juga tidak hanya terbatas pada rumah tinggal. Ia pernah mendapatkan informasi mengenai aset dengan nilai transaksi lebih besar, termasuk rumah sakit dan gedung. Namun, transaksi properti seperti itu membutuhkan proses lebih panjang karena berkaitan dengan berbagai dokumen, aspek perusahaan, serta nilai aset yang besar.
Pengalaman bertahun-tahun di lapangan kemudian mendorong Evinda untuk mengikuti sertifikasi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Selain menambah wawasan, sertifikasi tersebut dinilai dapat memberikan pengakuan yang lebih formal terhadap kompetensi yang selama ini diperoleh melalui pengalaman. “Dengan adanya sertifikasi ini bisa menambah pede. Saya sudah tidak diragukan lagi,” ujarnya.
Menurut Evinda, selama menjalankan profesi sebagai agen properti, dirinya lebih banyak mengandalkan pengalaman dan pelatihan dari perusahaan. Sertifikasi LSP menjadi langkah baru untuk memperkuat kompetensi tersebut melalui pengakuan profesional.
Ia melihat kebutuhan terhadap sertifikasi akan semakin relevan ke depan, seiring tuntutan agar pelaku industri properti memiliki kompetensi yang lebih terukur.
Bagi Evinda, sertifikasi juga memberikan label profesional yang membuat dirinya semakin percaya diri ketika berhadapan dengan konsumen.
“Tambah pede juga. Ada label yang lebih positif. Kita juga tidak dipandang sebelah mata dengan adanya sertifikasi ini,” katanya.
Perjalanan dari broker tradisional menuju konsultan properti profesional tersebut memperlihatkan bahwa profesi agen properti kini tidak lagi hanya mengandalkan kemampuan menjual. Pengetahuan, pelatihan, pengalaman, kemampuan menjaga relasi, serta pengakuan kompetensi menjadi modal yang semakin penting untuk membangun kepercayaan konsumen.
Di tengah pasar Bintaro yang terus berkembang, kemampuan tersebut menjadi bekal bagi konsultan properti untuk tidak sekadar mengejar transaksi, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen dan jaringan propertinya.

















