
Propertynbank.com – Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan utama bagi pasar properti nasional. Kenaikan biaya konstruksi, tingginya suku bunga pembiayaan, hingga melemahnya daya beli masyarakat diperkirakan akan memengaruhi hampir seluruh segmen properti, mulai dari hunian, perkantoran, retail, hotel hingga kawasan industri.
Namun demikian, kondisi tersebut juga membuka peluang munculnya pola pengembangan baru yang lebih efisien dan sesuai kebutuhan pasar.
Head of Research & Consultancy PT Leads Property Services Indonesia, Martin Hutapea, mengatakan segmen rumah tapak dan kondominium akan menghadapi tekanan cukup besar akibat meningkatnya biaya pembangunan. Dampaknya, harga jual properti berpotensi naik sementara margin pengembang semakin tertekan.
Menurutnya, sejumlah pengembang kemungkinan akan menunda peluncuran proyek baru sambil menunggu kepastian kondisi pasar. Di sisi lain, akses pembiayaan proyek melalui perbankan juga diperkirakan menjadi lebih selektif dengan biaya bunga yang lebih tinggi.
“Dari sisi konsumen, permintaan KPR diprediksi melambat karena masyarakat cenderung lebih berhati-hati terhadap kondisi ekonomi dan potensi berkurangnya pendapatan,” ujar Martin beberapa waktu lalu.
Meski demikian, Martin melihat masih terdapat sejumlah peluang. Unit rumah maupun apartemen siap huni (ready stock) dengan harga lama diperkirakan akan lebih cepat terserap pasar dibanding proyek baru. Pasar properti sekunder juga dinilai semakin menarik karena menawarkan lokasi yang sudah berkembang dan dapat langsung dihuni.
Selain itu, pengembang diperkirakan akan lebih banyak mengembangkan kawasan townhouse maupun klaster berukuran lebih kecil serta membidik lokasi yang dekat dengan kawasan Transit Oriented Development (TOD). Tren rumah hemat energi juga diperkirakan semakin diminati dibanding hunian mewah dengan spesifikasi material impor.
Pada sektor perkantoran, Martin menilai perusahaan akan semakin berhati-hati dalam melakukan ekspansi maupun renovasi kantor. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tingkat kekosongan ruang kantor sekaligus menunda pembangunan gedung-gedung premium baru, khususnya di kawasan CBD.
Namun di balik tantangan tersebut, permintaan terhadap flexible office, furnished office, co-working space serta gedung Grade B yang berada di lokasi strategis diperkirakan akan meningkat karena menawarkan efisiensi biaya operasional. Penyewa juga memiliki posisi tawar yang lebih kuat saat melakukan negosiasi perpanjangan sewa.
“Kami melihat mulai berkembangnya konsep low-rise hingga mid-rise office bergaya campus di kawasan pinggiran Jakarta maupun kota-kota pendidikan sebagai alternatif pengembangan perkantoran yang lebih efisien,” pungkasnya.
















