
Propertynbank.com – Membangun rumah sebenarnya tidak hanya membangun bangunan fisik semata. Namun, membangun rumah pada dasarnya membangun hunian yang layak untuk selauruh lapisan Masyarakat Indonesia.
Rumah pada dasarnya adalah tempat keluarga tumbuh, anak-anak belajar, masyarakat membangun kehidupan, dan mendorong produktivitas ekonomi secara nasional. Pembangunan rumah yang tertata dengan terencana dengan baik tentunya akan mampu membuat perekonomian nasional maju dan berdampak pada kesejateraan Masyarakat.
Pada kenyataannya, pemerintah sejak awal masa kemerdekaan telah menorehkan semangat Pembangunan rumah layak bagi masyarakat. Dimulai dari Kongres Perumahan Rakyat Sehat yang diselenggarakan di Bandung pada 25–30 Agustus 1950 yang dibuka oleh Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Drs. Mohammad Hatta. Pemerintah menyebut kongres ini sebagai salah satu tonggak sejarah penting dalam pembangunan perumahan nasional.
Dalam sambutannya, Bung Hatta menyampaikan salah satu kutipan penting yang perlu diingat bersama antara lain “Cita-cita untuk terselenggaranya kebutuhan perumahan rakyat bukan mustahil apabila kita sungguh-sungguh mau dengan penuh kepercayaan, semua pasti bisa!”
Ya, membangun ekosistem perumahan merupakan tantangan terbesar dalam mewujudkan program perumahan. Bagaimana mengorkestrasi dan membangun semangat dari seluruh ekosistem perumahan baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengembang melalui berbagai asosiasi, perbankan sebagai penyalur pembiayaan perumahan, sektor swasta dan para pengamat serta ahli di bidang perumahan serta masyarakat agar mampu bergerak secara bersama-sama dalam satu program perumahan yang terintegrasi.
Kini pada Peringatan Hapernas tahun 2026 pemerintah telah menetapkan Program 3 Juta Rumah. Program tersebut bukan hanya sekedar mencapai target angka Pembangunan semata tapi juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi antarpemangku kepentingan.
Pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat sinergi. Dunia usaha perlu mendapatkan kepastian dan kemudahan dalam berinvestasi. Lembaga pembiayaan perlu menghadirkan skema yang semakin inklusif. Sementara masyarakat perlu ditempatkan sebagai penerima manfaat sekaligus bagian dari proses pembangunan. Terwujudnya ekosistem yang kuat akan membuat pembangunan perumahan tidak berjalan secara sektoral, melainkan menjadi gerakan nasional.

Dengan semangat tersebut, Hapernas dapat diarahkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama: pemerintah hadir, dunia usaha berkolaborasi, masyarakat berpartisipasi, dan seluruh pemangku kepentingan bergerak menuju tujuan yang sama yakni semangat untuk menyediakan hunian layak bagi masyarakat Indonesia.
Program sebesar Program 3 Juta Rumah juga membutuhkan strategi komunikasi publik yang kuat. Masyarakat perlu mengetahui apa tujuan program, siapa penerimanya, bagaimana mekanismenya, serta apa manfaat yang akan diperoleh.
Di sinilah Hapernas memiliki peran strategis sebagai momentum komunikasi publik. Pesan mengenai pentingnya rumah layak dapat disampaikan secara lebih luas melalui berbagai kanal komunikasi, mulai dari media massa, media sosial, forum masyarakat, komunitas, hingga kegiatan edukasi.
Komunikasi juga harus mampu menghadirkan cerita dari masyarakat. Kisah keluarga yang mendapatkan rumah layak, masyarakat yang terbantu melalui pembiayaan perumahan, maupun perubahan kualitas kawasan permukiman dapat menjadi bukti nyata bahwa pembangunan perumahan memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Dengan komunikasi yang tepat, Hapernas tidak hanya menjadi momentum untuk berbicara tentang rumah, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kepercayaan publik terhadap agenda pembangunan perumahan nasional.
Dampak Hapernas
Hapernas juga sebaiknya menjadi momentum evaluasi. Setiap tahun, berbagai capaian dan tantangan pembangunan perumahan perlu dilihat secara objektif. Apa yang sudah berhasil? Apa yang belum tercapai? Hambatan apa yang masih dihadapi? Kebijakan apa yang perlu diperkuat? Dan inovasi apa yang harus dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar peringatan Hapernas memiliki dampak nyata terhadap perbaikan kebijakan.
Dalam konteks Program 3 Juta Rumah, Hapernas dapat menjadi titik evaluasi tahunan untuk melihat perkembangan penyediaan rumah, efektivitas kebijakan, keterlibatan para pemangku kepentingan, serta dampaknya terhadap masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan Program 3 Juta Rumah tidak hanya ditentukan oleh angka capaian pembangunan unit rumah. Ukuran keberhasilannya adalah ketika semakin banyak masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap hunian yang layak, sehat, aman, terjangkau, dan berada dalam lingkungan permukiman yang berkualitas.

Karena itu, Hapernas perlu ditempatkan sebagai momentum untuk memperbarui komitmen nasional terhadap pembangunan perumahan.
Hapernas harus menjadi pengingat bahwa setiap keluarga membutuhkan rumah, tetapi setiap keluarga juga berhak mendapatkan kehidupan yang layak di dalamnya.
Program 3 Juta Rumah merupakan pekerjaan besar. Tidak mungkin diselesaikan oleh satu kementerian, satu lembaga, atau satu sektor saja. Dibutuhkan kolaborasi, inovasi, konsistensi kebijakan, dukungan pembiayaan, serta komunikasi publik yang kuat.
Jika seluruh kekuatan tersebut dapat disatukan, maka Hapernas tidak lagi sekadar diperingati setiap tahun. Hapernas dapat menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan cita-cita besar yakni menghadirkan rumah layak bagi masyarakat Indonesia dan membangun masa depan bangsa dari rumah.
Dari rumah yang layak, kita membangun keluarga yang kuat. Dari keluarga yang kuat, kita membangun Indonesia yang maju. Selamat Hari Perumahan Nasional !!
Oleh : Ristyan Mega Putra, S.Sos, M.Si, Pranata Humas Ahli Muda, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP)
















