
Propertynbank.com – Penguatan literasi keuangan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Menjawab tantangan tersebut, PT Bank Jago Tbk berkolaborasi dengan Indonesia Mengajar untuk memperluas edukasi kesehatan finansial bagi masyarakat Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Melalui program ini, Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar mendapat peran tambahan sebagai fasilitator kesehatan finansial. Mereka akan mendampingi warga secara langsung agar lebih memahami pengelolaan keuangan keluarga, mengenali layanan keuangan yang aman, serta mengembangkan kemampuan mengelola pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sabu Raijua dipilih karena masih menghadapi tantangan sosial dan ekonomi yang cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan dalam program tersebut, sebanyak 27,18% penduduk atau sekitar 30.650 jiwa dari total 97.742 penduduk berada di bawah garis kemiskinan. Wilayah ini juga mencatat angka rawan pangan sebesar 10,11% serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dasar.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya pendampingan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya keuangan secara tepat.
Head of Sustainability & Digital Lending Bank Jago, Andy Djiwandono, mengatakan kemampuan mengatur pendapatan dan menentukan prioritas kebutuhan keluarga menjadi faktor penting untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat di wilayah 3T.
“Dengan aspirasi meningkatkan kesempatan tumbuh berjuta orang melalui solusi keuangan digital yang berfokus pada kehidupan, kami ingin memastikan edukasi keuangan tidak cuma milik masyarakat di kota-kota besar tetapi juga dirasakan langsung masyarakat di pelosok, seperti Sabu Raijua,” ujar Andy dalam keterangan tertulis.
Edukasi Keuangan hingga Pengelolaan Modal Usaha
Materi yang diberikan dalam program ini dirancang agar dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi tidak berhenti pada kebiasaan menabung, tetapi mencakup perencanaan anggaran rumah tangga, pengenalan produk keuangan yang aman, serta upaya melindungi diri dari kejahatan finansial dan pinjaman ilegal.
Masyarakat juga akan memperoleh pemahaman mengenai pengelolaan modal usaha kecil. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu warga mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak, menjaga kestabilan ekonomi keluarga, serta mengelola usaha secara berkelanjutan.
Sustainability Program Activation Specialist Bank Jago, Andhina Ratri Aryani, menilai keterlibatan Pengajar Muda menjadi elemen penting dalam menyampaikan edukasi keuangan kepada masyarakat lokal.
Menurutnya, kedekatan sosial dan emosional yang telah dibangun Pengajar Muda dengan warga di lokasi penugasan dapat membantu proses penyampaian materi agar lebih mudah dipahami dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Dengan peran tambahan sebagai fasilitator kesehatan finansial, kami optimistis materi yang diajarkan dapat dipahami dan membawa dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari warga Sabu Raijua,” ungkap Andhina.
Bank Jago Andalkan Pendekatan Berbasis Komunitas
Collaboration Project Manager Indonesia Mengajar, Anindita Rauda Kirana, mengatakan program tersebut sejalan dengan pendekatan Indonesia Mengajar yang mengutamakan interaksi langsung serta pembangunan kepercayaan bersama masyarakat setempat.
Kehadiran Pengajar Muda yang hidup berdampingan dengan warga dinilai menjadi modal penting untuk menyampaikan pengetahuan keuangan secara kontekstual, termasuk kepada masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan akses informasi.
“Di daerah seperti Sabu Raijua, tantangan ekonomi warga sering kali berakar dari minimnya akses informasi pengelolaan uang yang benar. Lewat pendampingan ini, Pengajar Muda tidak hanya membawa ilmu di sekolah, tetapi juga ikut membentengi ekonomi keluarga warga dari risiko finansial,” jelas Anindita.
Sebelum menjalankan tugas, empat Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar terlebih dahulu mengikuti pembekalan intensif dari tim Sustainability Bank Jago. Pembekalan tersebut meliputi materi kesehatan finansial, metode pendekatan sosial dan budaya, serta strategi pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat lokal.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas akses pengetahuan keuangan sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi keluarga di Sabu Raijua. Bagi Bank Jago dan Indonesia Mengajar, keberhasilan program tidak hanya diukur dari meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan formal, tetapi juga dari kemampuan warga menghadapi risiko ekonomi dan mengambil keputusan keuangan secara mandiri.
Dengan demikian, upaya membangun masyarakat yang bankable perlu berjalan beriringan dengan penguatan financial resilience atau ketahanan finansial, sehingga masyarakat memiliki bekal lebih baik untuk menghadapi tantangan ekonomi pada masa mendatang.
















