
Propertynbank.com – Investasi properti tidak selalu membutuhkan modal miliaran rupiah. Melalui mekanisme lelang, masyarakat kelas menengah kini memiliki peluang untuk masuk ke bisnis jual beli properti dengan nilai aset yang relatif terjangkau, mulai dari Rp200 juta hingga Rp500 juta.
Peluang ini dinilai dapat mendorong lahirnya pelaku usaha properti baru atau property-preneur yang memanfaatkan aset lelang untuk dikembangkan, direnovasi, kemudian dijual kembali dengan nilai lebih tinggi.
Pengamat properti Panangian Simanungkalit menilai, segmen properti dengan harga di bawah Rp500 juta memiliki potensi pasar tersendiri. Terlebih, ketika sebagian investor masih cenderung berhati-hati dalam membeli properti dengan nilai di atas Rp1 miliar.
Menurutnya, aset lelang BTN dapat menjadi alternatif investasi bagi masyarakat yang ingin memulai usaha di sektor properti tanpa harus menyediakan modal terlalu besar. Skema bisnisnya relatif sederhana, yakni membeli properti melalui lelang, melakukan renovasi atau perbaikan, lalu memasarkannya kembali.
“Ini akan menciptakan property-preneur di kalangan menengah. Bahkan mungkin menengah ke bawah,” ujar Panangian kepada sejumlah media, dalam diskusi mengenai lelang properti BTN di Jakarta, 30 Oktober 2026 lalu.
Ia mengibaratkan peluang tersebut seperti bisnis jual beli mobil bekas. Pelaku usaha membeli barang dengan harga kompetitif, memperbaiki kondisi dan tampilannya, kemudian menjual kembali untuk memperoleh keuntungan. Pola serupa dapat diterapkan pada properti lelang, sepanjang pembeli mampu memperhitungkan harga akuisisi, biaya renovasi, serta potensi nilai jualnya.
Didukung Digitalisasi dan Pembiayaan
Potensi bisnis dari aset lelang semakin terbuka seiring dengan berkembangnya pemasaran digital. Calon pembeli kini dapat mengakses informasi mengenai properti yang dilelang, mengetahui lokasi dan karakteristik aset, serta melakukan survei sebelum menentukan pilihan.
Panangian menilai kemudahan akses informasi tersebut membuat pasar lelang tidak lagi terbatas pada kalangan investor atau pelaku properti berpengalaman. Masyarakat umum pun memiliki kesempatan untuk mengenali dan memanfaatkan peluang yang tersedia. “Jadi orang sudah bisa melihat propertinya melalui digital platform,” katanya.
Dari sisi pemasaran, BTN mengoptimalkan sejumlah kanal digital, antara lain Bale by BTN, website Bale Lelang, dan media sosial. Perseroan juga memanfaatkan portal properti Rumah123 dan Pinhome untuk memperluas jangkauan calon pembeli.
Strategi tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), serta agen properti. Untuk mempermudah transaksi, BTN juga menyediakan fasilitas pembiayaan KPR Maju bagi calon pembeli yang membutuhkan dukungan kredit pemilikan rumah.
Perkembangan bisnis lelang BTN menunjukkan tren yang semakin positif. Berdasarkan data perseroan, jumlah aset yang berhasil terjual melalui mekanisme lelang sejak Agustus 2026 bahkan telah melampaui total pencapaian sepanjang 2025.
Memasuki triwulan IV/2026, sebanyak 6.000 agunan telah terdaftar untuk dilelang dari target 10.000 agunan sepanjang tahun ini. BTN menargetkan rasio keberhasilan penjualan atau success rate lelang nasional mencapai 35% pada akhir 2026, meningkat dari posisi saat ini yang masih berada di kisaran 21%.
Sejumlah wilayah, khususnya Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, menjadi andalan dalam mendorong peningkatan penjualan aset perseroan.
Lelang BTN Peluang bagi Investor dan End-user
Selain menjadi instrumen investasi, aset lelang juga berpotensi memenuhi kebutuhan masyarakat yang mencari rumah untuk dihuni sendiri. Menurut Panangian, rumah lelang di kawasan yang sudah berkembang memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi calon pembeli yang ingin tetap tinggal di lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Ia mencontohkan keluarga yang telah lama tinggal dengan cara mengontrak di suatu kawasan. Karena sudah memiliki keterikatan dengan lingkungan, akses transportasi, sekolah, maupun tempat bekerja, mereka cenderung ingin tetap berada di lokasi yang sama ketika memutuskan membeli rumah. “End-user pasti ada, terutama di lokasi-lokasi yang sudah matang,” tuturnya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar properti lelang memiliki dua segmen potensial. Pertama, investor atau pelaku usaha yang mencari aset dengan harga menarik untuk direnovasi dan dijual kembali. Kedua, pengguna akhir yang membutuhkan hunian dengan lokasi sesuai kebutuhan keluarga.
Dengan dukungan platform digital, jaringan pemasaran, serta fasilitas pembiayaan, lelang properti BTN berpotensi menjadi salah satu pintu masuk bagi masyarakat untuk terlibat lebih jauh dalam industri properti. Tidak hanya bagi investor bermodal besar, tetapi juga bagi kelas menengah yang ingin membangun usaha maupun memiliki rumah melalui alternatif pembelian yang berbeda.















