
Propertynbank.com – Sektor ritel atau pusat belanja di Jakarta terus menunjukkan pertumbuhan, meski pemulihan berlangsung selektif di setiap kelas pusat perbelanjaan. Tren baru kini mengarah pada konsep experience-led retail yang memadukan pengalaman pengunjung dengan ruang hijau dan prinsip keberlanjutan.
Konsep green retail tidak lagi sekadar menjadi bagian dari komitmen pembangunan berkelanjutan. Kehadiran green space mulai dipandang sebagai strategi bisnis untuk merespons perubahan iklim, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus menjawab perubahan ekspektasi konsumen terhadap ruang yang lebih hijau dan biophilic.
Di Jakarta, konsep ritel hijau mulai berkembang sejak 2023, meski jumlah pusat perbelanjaan yang telah mengantongi sertifikasi hijau masih terbatas. Sejumlah ritel kelas A yang mengadopsi konsep tersebut setelah pandemi tercatat memiliki tingkat okupansi lebih tinggi dibandingkan rata-rata pasar ritel Jakarta.
Berdasarkan kategorisasi Knight Frank, green certified retail dan ritel dengan green space menunjukkan okupansi lebih tinggi dibandingkan integrated retail atau pusat perbelanjaan berbasis mixed use serta ritel konvensional. Kondisi tersebut mencerminkan perubahan preferensi pasar sekaligus adaptasi pengelola terhadap kebutuhan ruang ritel masa depan.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan, Green retail kini bukan lagi sekadar pilihan untuk memenuhi aspek keberlanjutan. “Kehadiran ruang hijau menjadi bagian dari strategi untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih nyaman, sekaligus meningkatkan daya saing dan nilai jangka panjang aset ritel,” ujarnya, Kamis (20/8).
Sementara itu, sektor makanan dan minuman (F&B) menjadi tenant paling aktif mengisi ruang ritel, terutama pada pusat perbelanjaan yang memiliki green space. Kehadiran merek-merek F&B lokal juga semakin mewarnai komposisi tenant baru.
Meski demikian, kinerja ritel kelas menengah dan bawah masih menghadapi tantangan. Segmen ini dinilai perlu terus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan dinamika persaingan ruang ritel di Jakarta.
Pasokan dan Okupansi Pusat Belanja Meningkat
Pada semester I 2026, total pasokan ruang mal di Jakarta tercatat mencapai 4.424.352 meter persegi, atau tumbuh sekitar 1% secara tahunan. Pertumbuhan pasokan tersebut antara lain berasal dari dua pusat perbelanjaan baru di Jakarta Selatan. “Tingkat okupansi rata-rata ruang ritel juga meningkat tipis menjadi sekitar 78,2%, sementara rata-rata harga sewa naik sekitar 1,9% dibandingkan tahun sebelumnya,” imbuh Syarifah.
Dari sisi tenant, sekitar separuh tenant baru yang masuk pada awal 2026 berasal dari sektor F&B. Selain F&B, sektor Fashion, Beauty, Jewelry & Accessories, Lifestyle, dan Entertainment juga masih aktif melakukan ekspansi.
Ekspansi Peritel Berlanjut
Langkah ekspansi juga dilakukan Joysparks Group melalui pengembangan ekosistem integrated retail yang menaungi tiga bisnis utama, yakni Star Department Store, Happy Harvest Supermarket, dan Lintas Bookstore. Dalam waktu dekat, grup tersebut menargetkan pengoperasian 10 gerai dan masih membuka ruang ekspansi dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, mengatakan perubahan demografi dan adopsi teknologi mendorong evolusi ritel Jakarta menuju experience-led retail. Perubahan tersebut sekaligus membuka peluang investasi pada aset ritel produktif di kelas tertentu.
Menurut Willson, pertumbuhan ritel ke depan akan semakin selektif. Pusat perbelanjaan yang mampu menggabungkan unsur pengalaman, green space, dan fitur keberlanjutan berpotensi memberikan nilai tambah bagi pengunjung sekaligus memperkuat produktivitas aset dalam jangka panjang.
















