
Propertynbank.com – Kolaborasi lintas perspektif menjadi kunci dalam menjawab tantangan arsitektur dan kualitas ruang hidup yang terus berkembang. Pesan tersebut mengemuka dalam LIXIL Day of Architecture & Design (LDAD 2026) yang digelar LIXIL di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada 12 Agustus 2026.
Mengusung tema ARCHIPELAGO DIALOGUES : Architecture as a Space of Co-Creation, LDAD 2026 mempertemukan arsitek, praktisi desain, serta pelaku industri dari Indonesia dan mancanegara untuk membahas masa depan arsitektur melalui pendekatan kolaboratif.
“LDAD merupakan kontribusi LIXIL bagi komunitas arsitektur dan desain Indonesia. Antusiasme tahun ini sangat besar, bahkan jumlah registrasi melampaui kapasitas yang tersedia,” ujar Audrey Yeo, Leader LIXIL Water Technology APAC dalam keterangan tertulis, Minggu (16/8).
Arsitektur Dibangun dari Dialog
LDAD 2026 menghadirkan empat sesi diskusi dengan perspektif yang saling melengkapi. Richard Wood, Managing Director Asia Snøhetta, mengawali pembahasan dengan gagasan bahwa arsitektur tidak hanya menghasilkan bangunan, tetapi juga dapat menjadi wadah bagi kehidupan publik dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Ia memperkenalkan konsep “ecotone”, yakni ruang pertemuan berbagai fenomena berbeda. Dalam arsitektur, konsep tersebut menggambarkan pertemuan manusia, perspektif, dan keahlian yang dapat melahirkan gagasan serta ruang baru melalui proses co-creation.
Pandangan tersebut diperkuat Gregorius Supie, Principal Yolodi+Maria Architects. Menurutnya, desain arsitektur sebaiknya tidak ditentukan secara instan, melainkan tumbuh melalui proses membaca konteks. Kondisi alam, budaya, iklim, kebutuhan pengguna, hingga pemilihan material menjadi bagian penting dalam membentuk sebuah rancangan.
Sementara itu, Andra Matin, Principal andramatin studio, memperlihatkan bagaimana tradisi dan material lokal dapat diterjemahkan ke dalam arsitektur kontemporer. Strategi seperti ventilasi alami, penggunaan naungan, lanskap, serta ruang sosial menjadi pendekatan untuk menghasilkan bangunan yang memiliki identitas sekaligus adaptif terhadap iklim tropis.

Pembahasan kemudian bergerak ke aspek teknologi bersama Patrik Schumacher, Principal ZHA. Ia melihat perkembangan metaverse, virtual reality (VR), hingga gaming engines sebagai instrumen yang dapat memperluas proses eksplorasi dan kolaborasi desain.
Teknologi digital memungkinkan arsitek dan berbagai pemangku kepentingan menguji serta menyesuaikan rancangan secara virtual sebelum pembangunan fisik dilakukan. Pendekatan tersebut juga berpotensi menekan investasi yang tidak diperlukan sekaligus membuka peluang penggunaan sistem prefabrikasi.
“Keseluruhan sesi menunjukkan bahwa arsitektur tidak dibentuk secara tunggal. Dialog, pemahaman, dan kolaborasi menjadi kunci untuk menghasilkan arsitektur yang relevan, solutif, dan berkelanjutan,” kata Arfindi Batubara, Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia.
LDAD 2026 Apresiasi Karya Arsitektur
Event ini juga menjadi momentum pengumuman pemenang LIXIL Architectural Design Competition (LADC) 2026, kompetisi yang digagas LIXIL Water Technology Indonesia bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Pada kategori profesional, Juara I diraih karya LADC_P_130 “Pagar Laut: Reclaiming Our Coastline” karya Ar. Iqbal Nurhidayat (IAI), Fahry Triza Nugraha, dan Imam Darmawan Putra.
Sementara kategori mahasiswa dimenangkan karya LADC_M_063 “ei peowu: Catalyzing Resilience Across Sabu Raijua” yang dirancang Melvino Anindra Bagaswara, S.Ars., Bayu Putra Setiawan, dan Muhammad Fathur Rahman.
Selain forum diskusi dan penghargaan LADC 2026, LDAD turut menghadirkan 10×10 Archinesia, LADC 2026 Exhibition Area yang menampilkan karya-karya terpilih, serta LIXIL Product Display Area.
Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari komitmen LIXIL melalui semangat “Better Homes for Everyone, Everywhere”, dengan mendorong terciptanya ekosistem arsitektur yang semakin terbuka, kolaboratif, dan mampu menjawab kebutuhan ruang hidup masa depan.

















