Property & Bank

SMF Bukukan Laba Naik 33,9 Persen, Pembiayaan Perumahan Tembus Rp141,61 Triliun

smf
Ki – ka : Primasari Setyaningrum, Sekretaris Perusahaan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), Bonai Subiakto, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), Ananta Wiyogo, Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), Heliantopo, Direktur Bisnis PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), dan Martin D. Siyaranamual, Chief Economist PT Sarana Multigriya Finansial (Persero)

Propertynbank.com – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF kembali menegaskan perannya sebagai pilar utama pembiayaan perumahan nasional. Memasuki usia ke-21 tahun, perusahaan pelat merah ini mencatatkan kinerja yang semakin solid, baik dari sisi penyaluran pembiayaan, pertumbuhan keuangan, maupun dukungan terhadap program strategis pemerintah di sektor perumahan.

Hingga Juni 2026, SMF telah membukukan akumulasi penyaluran pembiayaan sebesar Rp141,61 triliun kepada berbagai lembaga keuangan penyalur kredit pemilikan rumah. Khusus sepanjang Semester I-2026, nilai pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp14,09 triliun, mencerminkan konsistensi SMF dalam menjaga ketersediaan likuiditas jangka panjang bagi industri pembiayaan perumahan.

Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo, mengatakan pencapaian tersebut menunjukkan semakin kuatnya kontribusi Perseroan dalam mendukung ekosistem pembiayaan perumahan nasional.

“SMF terus memastikan tersedianya sumber pendanaan jangka panjang bagi lembaga keuangan penyalur pembiayaan perumahan. Hal ini menjadi sangat penting karena karakteristik kredit perumahan memiliki tenor panjang, sementara sumber dana perbankan umumnya berjangka lebih pendek,” ujarnya dalam sesi press conference, Rabu (22/7).

Tidak hanya menyalurkan pembiayaan, SMF juga terus memperkuat pasar pembiayaan sekunder melalui skema sekuritisasi aset. Hingga pertengahan 2026, Perseroan telah memfasilitasi 17 transaksi sekuritisasi dengan nilai akumulasi Rp14,21 triliun.

Melalui mekanisme tersebut, sambung Ananta, aset kredit perumahan dapat didaur ulang (asset recycling) menjadi sumber likuiditas baru sehingga lembaga keuangan memiliki ruang lebih besar untuk kembali menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat.

SMF Perkuat Program FLPP

Peran strategis SMF juga terlihat dalam pelaksanaan Program Kredit Pemilikan Rumah Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP). Sebagai bagian dari mandat pemerintah, SMF menyediakan porsi pendanaan sebesar 25 persen melalui skema blended finance yang mengombinasikan Penyertaan Modal Negara (PMN) dengan hasil penerbitan surat utang.

Hingga Juni 2026, total PMN yang telah diterima SMF mencapai Rp17,91 triliun. Dana tersebut berhasil dioptimalkan menjadi total pembiayaan sebesar Rp36,77 triliun, sehingga mampu mendukung pembangunan dan pembiayaan 962.650 unit rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Seluruh PMN yang diterima Perseroan telah tersalurkan secara optimal hingga Juni 2026.

“Setiap dana pemerintah yang dipercayakan kepada SMF harus mampu memberikan manfaat yang lebih besar. Melalui skema pendanaan yang terukur dan berkelanjutan, kami tidak hanya menyalurkan dana, tetapi juga menciptakan kapasitas pembiayaan baru agar semakin banyak masyarakat dapat memiliki rumah,” kata Ananta.

SMF juga menegaskan bahwa sektor perumahan memiliki multiplier effect yang besar terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan kajian Perseroan, setiap investasi Rp1 triliun di sektor perumahan berpotensi meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp1,83 triliun sekaligus menggerakkan sedikitnya 185 sektor ekonomi lainnya.

Laba Bersih Naik 33,9 Persen

Selain memperkuat fungsi pembangunan, SMF juga mencatatkan kinerja keuangan yang semakin sehat sepanjang Semester I-2026.

Total aset Perseroan meningkat 21,79 persen menjadi Rp68,29 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp56,07 triliun.

Sementara itu, ekuitas tumbuh lebih tinggi, yakni 34,65 persen menjadi Rp27,95 triliun, sedangkan liabilitas naik 14,23 persen menjadi Rp40,35 triliun.

Dari sisi profitabilitas, pendapatan Perseroan mencapai Rp1,70 triliun, naik 6,25 persen dibandingkan Semester I-2025.

Pertumbuhan pendapatan yang dibarengi efisiensi operasional berhasil mendorong laba bersih melonjak 33,90 persen menjadi Rp391 miliar.

Menariknya, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) Net sebesar 0,00 persen, mencerminkan pengelolaan risiko yang sangat baik.

Ditempat yang sama, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SMF, Bonai Subiakto, menegaskan bahwa kesehatan keuangan merupakan fondasi utama agar Perseroan mampu menjalankan mandat pembangunan secara berkelanjutan.

“Pelaksanaan mandat sebagai penyedia likuiditas dan alat fiskal harus ditopang struktur keuangan yang sehat, pendanaan yang terdiversifikasi, serta manajemen risiko yang disiplin. Kami terus menjaga keseimbangan antara ekspansi pembiayaan, kecukupan likuiditas, kualitas aset, serta kemampuan memenuhi seluruh kewajiban keuangan secara tepat waktu,” jelas Bonai.

SMF juga mencatat Return on Equity (ROE) sebesar 3,18 persen, Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 1,75 kali, serta Profit Margin sebesar 22,89 persen, yang menunjukkan keseimbangan antara pelaksanaan mandat pembangunan dan prinsip kehati-hatian.

Kepercayaan investor terhadap Perseroan juga tetap tinggi. Pada April 2026, SMF berhasil mempertahankan peringkat internasional BBB Outlook Stable dari S&P Global, serta mempertahankan rating idAAA dari Pefindo dan AAA dari Fitch Ratings Indonesia. Di sisi tata kelola, SMF kembali memperoleh predikat “Sangat Baik” dalam penilaian Good Corporate Governance (GCG) oleh BPKP.

Tiga Strategi Perkuat Ekosistem Pembiayaan

Ke depan, PT Sarana Multigriya Finansial akan terus memperkuat kontribusinya melalui tiga strategi utama, yakni mendukung program pemerintah, memperbesar penyediaan likuiditas bagi lembaga penyalur kredit perumahan, serta mengembangkan asset recycling melalui sekuritisasi.

Pada bagian lain, Direktur Bisnis SMF, Heliantopo, mengatakan ketiga strategi tersebut menjadi fondasi untuk membangun sistem pembiayaan perumahan yang lebih berkelanjutan.

“Pertama, mendukung Program FLPP melalui penyediaan porsi likuiditas 25 persen. Kedua, memperkuat kapasitas lembaga keuangan penyalur kredit perumahan melalui pembiayaan. Ketiga, mendorong asset recycling melalui sekuritisasi, baik dengan skema true sale maupun non-true sale,” ujarnya.

Menurutnya, kebutuhan pembiayaan perumahan nasional yang terus meningkat membutuhkan dukungan berbagai sumber pendanaan sekaligus instrumen pasar keuangan yang semakin kuat.

Karena itu, SMF akan terus memperluas kemitraan dengan industri perbankan, lembaga keuangan, dan pasar modal guna memperkuat pasar pembiayaan sekunder perumahan.

Memasuki usia ke-21 tahun, PT Sarana Multigriya Finansial menegaskan komitmennya untuk terus menjadi institusi yang adaptif, tangguh, dan berkelanjutan dalam mendukung penyediaan hunian layak bagi masyarakat Indonesia.

“Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, regulator, industri keuangan, pasar modal, serta seluruh pemangku kepentingan untuk membangun sistem pembiayaan perumahan yang semakin inklusif dan berkelanjutan,” tutup Ananta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan