Skip to main content

Property & Bank

Centrepark Dorong Tarif Parkir DKI Disesuaikan dengan Karakter Kawasan

tarif parkir
Layanan pengelolaan parkir berbasis teknologi

Propertynbank.com – Rencana penyesuaian tarif parkir berbasis zonasi di DKI Jakarta dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengatur mobilitas kendaraan pribadi sekaligus meningkatkan produktivitas ruang parkir.

Namun, penerapannya dinilai tidak bisa dilakukan dengan pendekatan tarif yang seragam. Setiap kawasan memiliki karakteristik permintaan, aktivitas ekonomi, hingga tingkat kepadatan kendaraan yang berbeda.

Founder & CEO Centrepark, Charles Richard Oentomo, mengatakan tarif parkir pada kawasan dengan permintaan tinggi dapat berfungsi lebih dari sekadar biaya penggunaan lahan. Menurutnya, tarif dapat menjadi instrumen untuk mengendalikan permintaan kendaraan pribadi.

“Tarif parkir dapat digunakan untuk mengelola demand kendaraan pribadi, meningkatkan turnover parkir, sekaligus mendorong masyarakat mempertimbangkan penggunaan transportasi publik,” ujar Charles.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya konsekuensi dari kenaikan tarif. Semakin tinggi tarif parkir, potensi berkurangnya volume kendaraan dan durasi parkir juga semakin besar.

Karena itu, menurut Charles, pemerintah perlu menemukan titik keseimbangan antara upaya mengurangi kemacetan, menjaga aktivitas ekonomi, serta memastikan ruang parkir tetap dimanfaatkan secara optimal.

Kenaikan Tarif Parkir Belum Tentu Tekan Pendapatan

Dari sisi industri pengelolaan parkir, perubahan tarif akan menciptakan hubungan antara volume kendaraan, durasi parkir, dan pendapatan.

Kenaikan tarif yang cukup tinggi berpotensi membuat pengguna kendaraan pribadi mengurangi frekuensi perjalanan, memperpendek waktu parkir, atau beralih ke moda transportasi lain. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat pendapatan pengelola parkir menurun.

Charles memberikan ilustrasi sederhana. Apabila tarif efektif meningkat 50%, sementara volume kendaraan turun sekitar 15–20%, pendapatan parkir secara keseluruhan masih berpotensi mengalami peningkatan. “Angka tersebut merupakan ilustrasi sederhana dan bukan proyeksi Centrepark,” jelasnya.

Menurut dia, dampak sebenarnya akan sangat bergantung pada price elasticity atau tingkat sensitivitas pengguna terhadap perubahan harga di masing-masing kawasan.

Karakteristik kawasan pusat bisnis atau CBD, pusat perbelanjaan, area transit, rumah sakit, hingga kawasan residensial memiliki pola permintaan parkir yang berbeda. Karena itu, formula tarif ideal perlu mempertimbangkan karakter masing-masing lokasi.

Mendorong Perubahan Perilaku Pengguna Kendaraan

Kebijakan tarif parkir juga berpotensi mengubah pola mobilitas masyarakat. Ketika biaya menggunakan kendaraan pribadi meningkat, pengguna akan memiliki insentif lebih besar untuk mempertimbangkan alternatif perjalanan.

Pilihan tersebut antara lain menggunakan transportasi publik, layanan ride-hailing, car pooling, mengurangi durasi parkir, maupun memilih lokasi parkir alternatif.

Dari perspektif pengelolaan kota, perubahan perilaku tersebut dapat menjadi salah satu tujuan dari penerapan tarif parkir berbasis zonasi.

Namun, Charles menilai kebijakan tersebut perlu dibarengi pengawasan dan penataan yang memadai. Tanpa pengawasan, kenaikan tarif di satu lokasi berpotensi menggeser kendaraan ke kawasan lain.

“Kebijakan tersebut harus diikuti dengan pengawasan yang baik agar tidak menimbulkan perpindahan kendaraan ke parkir informal, bahu jalan, maupun kawasan di sekitarnya yang justru dapat menciptakan permasalahan lalu lintas baru,” katanya.

Peluang Baru untuk Investasi Gedung Parkir

Selain berdampak pada mobilitas, penyesuaian tarif parkir dinilai dapat membuka peluang baru bagi pengembangan infrastruktur parkir.

Selama ini, pembangunan gedung parkir bertingkat menghadapi tantangan dari sisi kelayakan investasi. Besarnya biaya pembangunan harus diimbangi dengan tingkat utilisasi, turnover kendaraan, serta tarif parkir yang memadai.

Jika tarif parkir di kawasan tertentu dapat mencerminkan nilai lahan dan tingkat permintaan secara lebih proporsional, potensi yield aset parkir juga dapat menjadi lebih menarik bagi investor.

Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi pemerintah untuk mengoptimalkan aset atau lahan yang belum produktif melalui pembangunan fasilitas parkir bertingkat.

Pengembangannya dapat dilakukan melalui kerja sama dengan sektor swasta, termasuk skema public-private partnership (PPP).

“Dengan demikian, kebijakan tarif parkir tidak hanya dapat menjadi instrumen pengendalian lalu lintas, tetapi juga berpotensi menjadi katalis bagi investasi baru dalam infrastruktur parkir perkotaan,” tutur Charles.

Industri Parkir Menuju Ekosistem Urban Mobility

Centrepark melihat perkembangan industri parkir ke depan tidak lagi sebatas bisnis pengoperasian lahan parkir. Industri ini berpotensi menjadi bagian dari ekosistem urban mobility dan infrastruktur perkotaan.

Perubahan menuju sistem tarif berbasis zonasi dan nilai ekonomi kawasan juga akan meningkatkan kebutuhan terhadap sistem pengelolaan parkir yang profesional, transparan, serta didukung teknologi.

Peluang bisnis pun dinilai semakin luas, mulai dari optimalisasi aset parkir, pembangunan dan pengelolaan gedung parkir, digitalisasi pembayaran, pemanfaatan data, hingga kolaborasi dengan pemerintah dan pemilik aset.

Bagi Centrepark, pengelolaan data menjadi salah satu elemen penting untuk memahami pola permintaan parkir. Data mengenai volume kendaraan, durasi parkir, turnover, hingga karakter pengguna dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pengelolaan yang lebih efektif.

“Pada akhirnya, kami melihat kebijakan tarif parkir yang tepat dapat menciptakan keseimbangan antara tiga kepentingan: mengendalikan penggunaan kendaraan pribadi, meningkatkan produktivitas aset parkir, dan menciptakan kelayakan ekonomi bagi investasi infrastruktur parkir baru,” pungkas Charles.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan