
Propertynbank.com – Sydney terus menghadapi tantangan klasik kota metropolitan: kebutuhan hunian meningkat, sementara ruang untuk membangun rumah tapak baru semakin terbatas. Kondisi tersebut membuat kawasan suburban yang masih menawarkan landed property dengan akses relatif dekat ke pusat kota menjadi semakin menarik bagi investor, termasuk pembeli dari Indonesia.
Sebagai kota terbesar di Australia, Sydney telah berkembang menjadi metropolitan dengan tingkat urbanisasi yang matang. Ekspansi kota kini tidak lagi mudah dilakukan karena keterbatasan geografis maupun ketersediaan lahan.
Arah pengembangan pun mulai bergeser. Kawasan timur dan pusat kota lebih banyak diarahkan untuk hunian vertikal serta pengembangan dengan kepadatan lebih tinggi. Sementara itu, pengembangan rumah tapak dan townhouse semakin bergerak ke wilayah barat, barat daya, dan selatan Sydney.
Menurut Director & CEO Capital Value International Group (CVIG), Chandra Leonardi, kelangkaan lahan menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan ketika melihat prospek properti Sydney.
“Kelangkaan properti Sydney bukan hanya persoalan tingginya permintaan, tetapi juga keterbatasan geografis yang membuat kota ini sulit terus berkembang ke luar,” ungkap Chandra dalam keterangan tertulis.
Secara geografis, Sydney memiliki sejumlah batas alam yang membatasi ekspansi. Samudra Pasifik berada di sisi timur, sementara kawasan lindung seperti Ku-ring-gai Chase National Park, Royal National Park dan Blue Mountains National Park turut membatasi arah pertumbuhan kota.
Akibatnya, kawasan yang berada relatif dekat dengan pusat aktivitas ekonomi Sydney sebagian besar telah terurbanisasi. Lahan kosong berukuran besar pun semakin sulit ditemukan. Pengembangan baru akhirnya lebih banyak mengandalkan infill development, urban renewal dan densifikasi di sejumlah koridor strategis.
Kondisi tersebut menciptakan sebuah paradoks. Sydney membutuhkan tambahan pasokan hunian, tetapi ketersediaan lahan untuk membangun rumah baru di lokasi yang dekat dengan fasilitas kota justru semakin terbatas.
Bagi pembeli asing, peluangnya menjadi lebih selektif. Foreign buyers pada dasarnya lebih banyak diarahkan pada properti baru dan proyek off-the-plan. Dengan demikian, ketika lahan baru semakin terbatas, pilihan properti yang dapat diakses investor asing di lokasi strategis juga ikut menyempit.
“Karena itu, pertanyaan investasinya bukan sekadar ‘Di mana Sydney akan berkembang?’ melainkan, ‘Berapa banyak lahan yang masih dapat dikembangkan di lokasi Sydney yang paling diinginkan—dan berapa banyak yang benar-benar dapat diakses oleh foreign buyers?’ Di situlah nilai kelangkaan Sydney sebenarnya berada,” jelas Chandra.
Roselands Sydney Mulai Dilirik
Di tengah kondisi tersebut, kawasan suburban menjadi alternatif bagi pembeli yang menginginkan rumah tapak dengan harga dan karakter lingkungan yang lebih rasional dibandingkan kawasan premium seperti Sydney CBD, Eastern Suburbs maupun Northern Beaches.
Salah satu kawasan yang menarik untuk diperhatikan adalah Roselands, di barat daya Sydney. Kawasan ini menawarkan karakter hunian yang kuat dengan lingkungan keluarga, akses menuju pusat kota, serta ketersediaan properti yang relatif terbatas.
Roselands berjarak sekitar 20–30 menit berkendara dari Sydney CBD. Kawasan ini juga didukung fasilitas komersial seperti Roselands Shopping Centre yang telah beroperasi sejak 1965. Dari sisi konektivitas, akses jalan, jaringan bus, kereta, serta M5 dan M8 menjadi penunjang mobilitas penghuni. Yang menarik, fundamental Roselands tidak hanya bertumpu pada lokasi.
Lebih dari 53% rumah di kawasan tersebut dihuni pasangan dengan anak. Sementara itu, sekitar 70% penduduk merupakan pemilik rumah dan 30% lainnya merupakan penyewa.
Komposisi tersebut menunjukkan kuatnya karakter owner-occupier dan kebutuhan hunian keluarga. Bagi investor, kondisi ini menjadi indikator penting karena permintaan properti tidak semata bergantung pada aktivitas investor, tetapi juga kebutuhan masyarakat untuk tinggal dalam jangka panjang.
“Bagi pembeli Indonesia, Roselands menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di Sydney, yakni kesempatan memiliki properti landed di kawasan metropolitan dengan akses yang relatif dekat ke CBD, namun tetap memiliki karakter lingkungan keluarga yang sangat residential,” tambah Chandra.
Selain permintaan, faktor pasokan juga menjadi perhatian. Roselands tergolong pasar yang tightly held, dengan pemilik yang cenderung mempertahankan propertinya dalam jangka panjang. Akibatnya, jumlah aset yang tersedia di pasar tidak selalu besar.
Kombinasi permintaan keluarga, tingginya kepemilikan rumah dan keterbatasan pasokan inilah yang menciptakan daya tarik tersendiri.
“Pasar properti di sana sering kali dipersepsikan hanya melalui kawasan-kawasan yang sudah sangat populer. Padahal, bagi investor dengan perspektif jangka panjang, kawasan seperti Roselands justru menarik untuk diperhatikan, karena memiliki basis hunian yang kuat, pasokan yang relatif terbatas, serta permintaan yang didorong oleh kebutuhan keluarga,” papar Chandra.
Dengan perspektif tersebut, Roselands tidak sekadar menjadi alternatif lokasi hunian. Kawasan ini menawarkan cerita investasi yang berbeda: ketika rumah tapak semakin sulit ditemukan di metropolitan Sydney, suburban matang dengan aksesibilitas dan basis komunitas yang kuat justru berpotensi menjadi aset yang semakin bernilai.
“Roselands memberikan perspektif berbeda. Area suburban ini menawarkan kombinasi antara lingkungan keluarga, infrastruktur jalan yang baik, akses menuju kawasan metropolitan Sydney, serta pasar properti yang relatif terbatas,” tutup Chandra.
















